-KULIAH SAMBIL KERJA-

Penulis : Poedianto

Hari ini, 236 siswa dari semua kompetensi (Perhotelan, UPW, Tata Boga) SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya menjalani wisuda di ruangan Convention Hall AB, Dyandra Convention Centre, Jalan Basuki Rahmad 93-105 Surabaya. (5 Juni 2022). Pimpinan yayasan, guru dan karyawan hadir.

Pra acara wisuda dimulai dengan tampilan seni Dance, Tari Lenggang. kemudian dilanjutkan prosesi wisuda, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tampilan-tampilan siswa yang lain lagi. Ini semua dilatih terus-menerus oleh Rahindriati Rahaju, S. Pd (ketua panitia wisuda), Joni Sumarijono, SE (koordinator acara), Dradjat Puspito, S. Pd, Arik Setyorini, S. Pd, Jefri Ardianto, S. Pd, Drs. Khoirul Wadut, Rangga Galung Rihardika, ST. Par, Valent Nikka Castity, S. Pd.

Himne, jinggel sekolah pusat keunggulan ini serta lagu Ayah-Bunda, ketiganya karya Aris Setiawan, M. Pd, Guru Seni Budaya (almarhum), semuanya dilantunkan dengan elok oleh paduan suara siswa. Suaranya renyah, enak, merdu, terdengar di ruang wisuda. Tak heran banyak hadirin yang “kepranan.” Itu bisa dilihat dari kaki hadirin yang digoyang-goyangkan, kepalanya manggut-manggut sembari duduk di kursi undangan. Apalagi diiringi musik keyboard yang serasi dari jari-jemari Mas Dwi Cahyono (Mas Yayak).

Seni adalah naluri. Seni sentuhan rohani. Seni lahir dari hati. Maka seni telah menggugah akan pentingnya sebuah wadah untuk berkiprah. Lalu, terbentuklah sanggar-sanggar seni, fakultas seni dan sastra di perguruan tinggi, ekstra kurikuler seni di sekolah-sekolah. Ini semua bisa memupuk minat dan bakat. Kecintaan terhadap seni tradisi dan kearifan lokal lainnya, kini terbukti banyak yang mempelajari. Baik anak usia sekolah, mahasiswa, atau masyarakat umum.

Lembaga pendidikan dalam mendidik siswa senantiasa dengan cara terpadu. Kognitif, psikomotorik dan afektif. Ini semua agar bermanfaat dan bisa menjadi bekal siswa di masyarakat setelah usai masa sekolah. Disinilah pentingnya pendidikan. Pendidikan bisa membuka cakrawala pandang.

Kemajuan sebuah bangsa bisa dinilai dari pendidikan. Sebab dengan pendidikan yang maju, ilmu pengetahuan dan teknologi akan maju pula. Bersama ilmu pengetahuan dan teknologi dunia bisa dibangun. Berdirinya gedung-gedung yang tinggi, jembatan yang melangkahi sungai atau selat, jalan-jalan yang menghubungkan desa yang satu dengan desa lainnya, adanya kapal udara, kapal laut, kereta api, bus, truk, mobil, kecanggihan teknologi informasi, karya sastra, musik dan banyak lagi, kesemuanya ini adalah buah dari pendidikan.

Wisuda yang mengangkat tema Membangun Kesuksesan Berbekal Keterampilan dan Akhlak Mulia dilalui dengan lancar. Sambutan ketua yayasan (Samba Perwirajaya, SH, MH), sambutan kepala sekolah (Drs. Hery Musika Jaya, MM), sambutan ketua komite sekolah (Budi Setiono, S. ST. Par), janji wisudawan oleh M. Bagas Prasetio (12 Tata Boga), kesan-kesan wisudawan oleh Shalomitha Manna (12 UPW) serta acara berikutnya, kesemuanya berjalan dengan tertib.

Dalam kata sambutan Samba Perwirajaya, SH, MH, ketua yayasan, mengutarakan bahwa siswa ibarat tumbuhan yang sedang berkembang. Pupuknya adalah ilmu pengetahuan dan budi pekerti luhur.

“Yang lebih dari itu semua adalah doa restu orang tua,” katanya.

“Harapan saya, setelah lulus, siswa bisa diserap di dunia kerja sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing. Atau berwirausaha,” harap Drs. Hery Musika Jaya, MM, di sela-sela wisuda.

Di tempat yang sama diberikan juga penghargaan kepada 9 siswa prestasi dari semua kompetensi keahlian. (Perhotelan, UPW, Tata Boga).

Tampak wajah-wajah puas dari wisudawan serta orang tua murid. Betapa tidak ! Tiga tahun putra-putri mereka menimba ilmu. Sudah barang pasti problematika selama sekolah juga telah dilaluinya. Suka duka, manis pahit, tawa sedih, sudah dilewatinya. Kendati demikian tak sedikitpun semangat para siswa menjadi kendor untuk berangkat sekolah. Buktinya, tiga tahun waktu belajar diselesaikan dengan baik. Maka acara wisuda ini kali adalah momentum yang sulit dilupakan serta senantiasa terukir di hati masing-masing siswa. Sebab wisuda diasumsikan sebagai perjalanan pamungkas dari sebuah proses belajar mengajar. Sontak, ruangan wisuda dipenuhi siswa yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik dengan rias serta busana nasional.

Generasi terdidiklah yang akan memikul masa depan bangsa. Yaitu generasi yang berbekal ilmu pengetahuan dan dilandasi budi pekerti yang luhur.

Dunia sekolah sudah usai, kini derap langkahnya menginjak babak baru. Yaitu meniti di dunia kerja atau kuliah di kampus.

“Wawasan yang luas dan kejujuran harus menjadi pegangan di dunia kerja. Bila dijalankan dengan konsekwen, maka karir akan diraihnya,” kata Drs. Ec. Margiono, MM, Guru Kewirausahaan.

Dari beberapa wisudawan, mereka mengaku berkeinginan mencari kerja, karena mereka ingin membantu orang tua. Namun ada juga yang ingin kuliah sambil kerja.

Ervina Yulia Damayanti, Nurkholizah (12 Tata Boga 2), Aulia Salsabila, M. Shofil, Andini Prameswari (12 UPW), Yusuf Fermansyah, Alya Vegita (12 Perhotelan 4 dan 1). Mereka ada yang ingin kuliah, ada pula yang ingin kerja.

“Saya akan kuliah sambil kerja,” kata Nelly Nur Fadillah, kelas 12 Tata Boga 2. Sementara Yunan Zain Faisal, kelas 12 Tata Boga 3, ingin kerja untuk membantu orang tua.

“Sekolah kejuruan memang dibekali keterampilan dan pengetahuan. Maka banyak diantara mereka, setelah tamat sekolah, langsung mencari pekerjaan,” kata Andy Rudiansyah, S. Pd, Guru Bahasa Inggris.

“Tidak hanya di kelas siswa diberi ilmu pengetahuan. Di luar kelas juga mendapatkan bekal. Seperti baru-baru ini, kelas sepuluh tata boga memperoleh pendidikan di luar sekolah. Yaitu kunjungan industri agro bisnis di Batu, Malang. Siswa mendapatkan pengalaman. Mengenal sistematika yang ada di dunia industri, memahami budaya kerja, keselamatan dan kesehatan kerja,” papar Prisna Andreanus Effendi, M. Pd, Waka Kurikulum.

Teori dan praktik senantiasa bergandengan. Ibarat daun sirih, warna daun bagian atas hijau tua dan warna daun bagian bawah semu-semu kuning. Tetapi bila digigit rasanya sama. Jadi, teori dan praktik itu menyatu. Demikian juga yang diberikan kepada siswa di sekolah kejuruan. Teori sekaligus praktik.

Ilmu menulis puisi, pantun, anekdot, cerpen, drama, pidato, foto grafer, film indi, tari, band, lukis, memproses telur asin dan jurnalistik, semua sudah dijalankan. Pun keterampilan kepanduan pramuka setiap minggu juga diajarkan. Seperti tali-temali, mendirikan tenda kemah, pertolongan pertama pada yang sakit. Dibidang religi, diajarkan baca kitab suci Al-Quran, seni hadrah Banjari dan lainnya lagi. Semuanya termaktub dalam ekstra kurikuler.

“Sekolah kami telah menghasilkan beberapa buku sastra karya siswa. Termasuk majalah sekolah yang terbit secara periodik. Yaitu Majalah Pendidikan Jendela,” kata Drs. M. Gufron, Guru Pendidikan Agama Islam dan juga anggota dewan redaksi Majalah Pendidikan Jendela.

“Teori dan praktik terus diberikan kepada siswa oleh guru-guru yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Baru-batu ini kami ajarkan Pemanduan Wisata dan Penyelenggaraan Perjalanan Wisata secara praktik untuk siswa kelas sepuluh dan sebelas UPW di Yogyakarta, Gunung Kidul,” papar Abdul Kudus, S. ST. Par, MM, Guru Ticketing dan Tour Planning.

“Praktik guiding bagi kelas sepuluh UPW di destinasi wisata dan tempat lainnya. Praktik ini selalu mendapat bimbingan para guru,” tambah Rangga Galung Rihardika, ST. Par, Guru Dasar Kejuruan Pariwisata.

Di kelas perhotelan juga selalu dibekali praktik. Tata cara menerima dan menyambut tamu hotel. Menata, merapikan kamar tidur dan kamar mandi hotel. Yang pada pokoknya diajari secara praktik tentang semua yang ada di hotel.

“Sudah barang tentu diajari pula berkomunikasi memakai bahasa Inggris. Karena kedepan menuju jaman globalisasi. Sehingga butuh bahasa internasional. Dengan maksud memudahkan komunikasi antar bangsa,” kata Abdul Malik, M. Pd, Guru Bahasa Inggris.

“Setelah lulus saya kuliah di jurusan bahasa dan sastra,” sela Marcellia, kelas 12 Tata Boga 2. Kalau Hasim Rahman, kelas 12 Tata Boga 2 akan kerja dulu selama satu tahun, terus kuliah. “Kerja cari uang untuk biaya kuliah,” akunya. Lain halnya Muhammad Amirul Haq, 12 Tata Boga 2 akan belajar kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri.

Praktik Front Office yang meliputi reception, reservation, operator, porter (bellboy).

“Praktik front office dijalankan oleh kelas sebelas perhotelan. Yaitu saat PKL, praktik kerja lapangan, selama enam bulan di hotel Haris Surabaya, hotel Twin Surabaya dan hotel lainnya lagi. Penekanannya pada keterampilan pelayanan tamu dan komunikasi yang ramah serta sopan kepada tamu,” papar Hadi Wijoto, S. ST. Par, Guru Akomodasi Perhotelan.

“Siswa kelas sepuluh perhotelan mendapat bekal di hotel The Alana Surabaya,” tambah Naniet Hernita, SE, S. ST. Par, K3 Perhotelan.

“Yang utama kelulusan siswa harus memegang teguh etika. Apalagi di dunia kerja,” tandas Ary Wahyu Ratnaningtyas, S. Pd, Guru Bimbingan Konseling.

MC acara wisuda ini ialah In’am Jauharatun Jamila (10 UPW), Tarisya Intan Yuliana (10 Perhotelan 1), Rizky Putra Wardhana (10 Perhotelan 1). MC dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

-Majalah Jendela-