Sapa sing temen, bakal tinemu (siapa yang sungguh-sungguh akan tercapai keinginannya). Ungkapan ini senantiasa dipegang oleh para Pandawa, demikian Ki Supriyono, S. Sn, dalang wayang kulit, mengawali bincang-bincang dengan Majalah Jendela di SMK Negeri 6, Surabaya, tentang pagelaran wayang kulit yang akan dipentaskannya malam ini, dengan mengambil lakon Wahyu Pancadarma (14 Desember 2019).

Pandawa, karena budi pekertinya, kebaikannya, mendapat wahyu Pancadarma. Dalang yang juga guru kerawitan dan pedalangan di SMK Negeri 12, Surabaya ini merinci makna wahyu tersebut. Panca itu lima, darma itu lelaku (yang dijalankan keseharian). Itu terwujud pada Yudhistira (saudara tua Pandawa) yang mempunyai sifat mengalah, welas asih, selalu memberi. Bima, yang mempunyai sifat tegas, kukuh dalam pendapat. Harjuna, yang suka persaudaraan, suka membagi ilmu kepada anak-anak muda. Nakula, selalu berhati-hati dalam bertindak, menyukai keasrian, keindahan, suka bertanam bebungaan dan bertani. Sadewa, suka memelihara kuda, kerbau, sapi dan sejenisnya. Namun kelima lelaku tersebut manunggal menjadi satu dalam wahyu Pancadarma.

Lebih lanjut dalang lelahiran Nganjuk 3 Januari 1973 ini menerangkan bahwa setiap wahyu turun, selalu saja ada bet ribet penggoda (goda). Seperti tatkala wahyu Pancadarma turun pada Pandawa, Bathari Durga (dewa penggoda) menggunakan para Kurawa di negara Hastina untuk menghalangi turunnya wahyu tersebut. Tak terelakkan perang terjadi.

Dalam pada itu juga, Dewa Serani (putra Bathara Guru dan Bathari Durga) juga berkehendak memiliki wahyu Pancadarma. Maka sudah barang tentu para Pandawa kesulitan menghadapi dua musuh sekaligus (Kurawa dan Dewa Serani). Apalagi Bathara Guru dan Bathari Durga mendukung musuh-musuh Pandawa. Maka tak ada jalan lain, Pandawa meminta bantuan kepada Ki Semar. Sontak Ki Semar naik ke kayangan (negara para dewa) dan diobrak-abrik hingga porak poranda kayangan tersebut.

Singkat cerita, para dewa meminta maaf kepada Ki Semar. “Oleh karena itu, kalian semua para dewa harus sungguh-sungguh memelihara dunia beserta isinya. Jangan pilih kasih dalam memimpin. Wahyu harus tepat pada orang yang menerimanya. Pandawalah yang tepat menerima wahyu. Bukan Dewa Serani yang mempunyai watak tamak, iri, drengki. Apalagi para Kurawa yang angkara murka itu,” papar Ki Semar kepada para dewa.

  • * *

Bulan bulat bundar. Sinarnya menerangi langit negara Amarta. Rakyat suka ria. Sawah dan tegalan panen raya. Pandawa menerima wahyu Pancadarma.

Sang Dalang Ki Supriyono, S. Sn, bersama Majalah Jendela

S e l e s a i

– Poedianto,S.Pd,MM / Majalah Jendela-