Pameran pendidikan pada hakikatnya adalah menyajikan keunggulan-keunggulan siswa. Baik knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan) dan attitude (etika). Seperti pameran SMK Pusat Keunggulan (PK) se Jawa Timur di Cito Surabaya ini kali (City of Tomorow Mall). Baik SMK PK Negeri maupun SMK PK Swasta (27-31 Oktober 2022).

“SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya juga andil dalam pameran tersebut. Semua kompetensi keahlian kami tampilkan,” kata Edi Pranoto, S. Pd, MM, Kepala SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.

Sebagai ketua pelaksana pameran untuk SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya adalah Agus Priyanto, S. Pd, Guru Bahasa Jepang.

“Mengikuti pameran, agar bisa mengetahui keunggulan masing-masing sekolah. Ini bisa menjadi bahan evaluasi,” ujar Drs. Ec. Margiono, MM, K3 Kuliner SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.

Margiono mencontohkan siswa kuliner (tata boga) sudah barang pasti bisa mengolah masakan kontinental, oriental dan masakan nasional (Indonesia).

“Masakan Italia, Inggris, Jerman dan negara-negara barat lainnya harus bisa dipraktikkan. Ini disebut masakan kontinental. Masakan oriental, seperti di negara-negara bagian tenggara, timur, tengah, selatan dan lainnya lagi. Yang lebih dari itu, harus menguasai masakan Indonesia,” papar mantan kepala sekolah di SMA Kahuripan Surabaya dan SMK Tantular Surabaya ini serius.

Berbagai upaya sekolah untuk meningkatkan kualitas anak didiknya sudah dilakukan. Seperti praktik kerja lapangan (PKL), kunjungan industri, lomba kompetensi siswa (LKS), workshop pendidikan, mengikuti pameran pendidikan dan segala bentuk upaya lainnya.

Persiapan SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya untuk menyongsong pameran pendidikan sekolah unggulan di Cito Surabaya sudah matang. Betapa tidak ! Dimulai rapat panitia pameran tanggal 22 Oktober 2022 dan tanggal 24 Oktober 2022 di Tentrem Room yang dipimpin oleh Edi Pranoto, S. Pd, MM, selaku kepala sekolah.

Yang dipamerkan, yakni : Menampilkan keunggulan masing-masing kompetensi keahlian ULP, Kuliner dan Hotel. Memajang piagam-piagam dan piala-piala kehormatan dari berbagai pihak. Baik dari instansi negeri, maupun dari lembaga-lembaga swasta yang peduli dengan pencerdasan putra-putri bangsa.

Pameran pendidikan adalah salah satu bukti dari buah pendidikan. Hasil dari pendidikan bisa dilihat dan dirasakan oleh masyarakat luas. Seperti gedung-gedung yang tinggi, jembatan yang menghubungan dari satu tempat ketempat lain, kereta api, kapal api, kapal terbang, bus, karya sastra, budaya, seni dan banyak lagi.

SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya juga ikut andil dalam mencerdaskan putra-putri bangsa. Misalnya pembelajaran bahasa Inggris juga ada ekstra kurikuler. Bahkan acapkali mendatangkan guru tamu dari luar negeri.

“Dalam upaya memajukan wawasan berbahasa anak didik, sekolah kami juga pernah mendatangkan guru dari luar negeri. Amerika, Jerman, Angola dan Tajekistan,” kata Abdul Malik, M. Pd dan Dradjat Poespito, S. Pd, keduanya Guru Bahasa Inggris.

Seni budaya juga dibangun sejak kelas sepuluh. Seni tulis sastra, jurnalistik, seni tari, musik, lukis, drama dan seni lainnya lagi. Semuanya diajarkan agar siswa peka terhadap nilai rasa.

SMK Negeri 1 Grati, Pasuruan, memamerkan hasil perkebunan dan SMK Negeri 1 Mejayan, Kabupaten Madiun memamerkan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP).

“Hasil pertanian yang diolah oleh siswa, kami pamerkan semua,” kata Mayang, S. Pd dan Eny, ST. P.

Siswa kepariwisataan juga menerima materi Accesbility Of Tourism. Tentang speaking skill, comunication skill, body languange, tour planning, sejarah kepariwisataan, guiding, tata cara pemandu wisata. Sudah barang pasti materi ini untuk mengasah skill buat pemandu wisata. “Ini semua diajarkan setiap hari,” kata Abdul Kudus, S. ST. Par, MM, Guru Tour Planning.

“Saya memilih masuk jurusan pariwisata (ULP) karena saya bercita-cita menjadi duta dunia,” kata Widyah Aura Arisandy Hidayat dan Siti Wardatul Husna, keduanya kelas 10 ULP.

Sementara di jurusan Tata Boga diajarkan berbagai masakan. Masakan eropa, asia dan Indonesia.

Irfan dan Lala Rafa Amelia, keduanya kelas 12 Tata Boga 1 (Kuliner), mengatakan praktik olahan masakan Indonesia lebih sulit ketimbang masakan kontinental atau oriental.

“Olahan masakan Indonesia rumit dan rinci pada bumbunya. Bumbu dasarnya banyak. Seperti bumbu kuning, bumbu merah dan bumbu putih. Semua bumbu dasar memakai rempah-rempah,” jelas Irfan.

Di jurusan hotel juga meningkat pesat kemampuan siswa. Seluk beluk perhotelan diajarkan semua. Front Office, Reception, House Keeping dan segala tentang perhotelan diajarkan. Seperti Ainul Fitriyah kelas 11 Hotel 2 mampu mengoperasikan alat Polishing (pembersih lantai).

“Pelajaran ini bagian dari House Keeping,” kata Rusdiyanto, S. ST. Par, MM, Guru House Keeping di Kompetensi Keahlian Hotel.

Di jurusan Tata Boga (Kompetensi Keahlian Kuliner), semua siswa sudah mengenal aneka bumbu.

Bumbu kuning : kunir, lengkuas. Bumbu merah : cabe, tomat. Bumbu putih : kemiri, ketumbar, merica dan semua jenis bumbu sudah dipahami oleh siswa.

Teknik dasar olahan makanan bisa dengan metode panas basah atau metode panas kering. Boiling, Steaming, Simmering. Hal ini juga sudah dipahami oleh siswa kelas Tata Boga.

“Kalau saya suka masak pasta. Diantaranya spaghetti, lasagna dan lainnya. Sebab saya senang dengan proses membuat adonan pasta,” kata Ashila, kelas 11 Tata Boga 1.

Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan pada kreativitas siswa. Siswa berpikir mandiri, tolong menolong, saintis dan religius.

“Sebab Kurikulum Merdeka konsentrasinya pada siswa. Yaitu, siswa harus mempunyai cakrawala pandang yang luas dan menguasai keterampilan pada bidangnya. Sudah barang tentu mengutamakan knowledge, skill serta attitude. Inti capaian ialah menjadikan Profil Pelajar Pancasila,” papar Drs. Ec. Margiono, MM, K3 Kuliner.

Bila sudah sampai pada tataran yang demikian, siswa akan peka terhadap kondisi lingkungan, tanggap dengan situasi setempat, suka menolong, bekerja sama, gotong royong, taat beribadah dan lainnya lagi. Yang pada pokoknya adalah semua nilai-nilai dari pada Pancasila dijalankan.

Dalam pameran sekolah unggulan, tergambar kemampuan sekolah masing-masing. Karenanya sekolah unggulan harus menjadikan unggul di semua bidang. Unggul ilmu pengetahuan, unggul keterampilan, unggul etika. Ini semua, tidak luput dari kesungguhan belajar, menghargai proses pembelajaran di sekolah serta bimbingan dari guru.
Amin


Poedianto