Sebanyak 94 siswa Perhotelan (Perhotelan 1-3) dan 48 siswa Tata Boga (Tata Boga 1-2) SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya mengikuti pelatihan Table Manner di Grand Darmo Suite Hotel, Surabaya selama lima hari (9-13 Nopember 2020). Sudah barang tentu menjalankan juga protokol kesehatan. Yakni pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.

Naniet Hernita, SE, Ketua Kopetensi Keahlian Perhotelan (K3 Perhotelan) SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya mengutarakan bahwa pelatihan table manner dimaksudkan agar siswa memahami tentang etika makan, making bad dan tour the hotel.

“Artinya siswa perhotelan harus mengetahui tata cara di hotel. Etika makan, menata kamar, ruang lingkup hotel. Yang pada pokoknya ialah table manner wajib diikuti oleh siswa perhotelan. Sebab nanti seusai lulus sekolah dan bekerja di hotel, akan bisa melayani tamu dengan etika yang lazim berlaku di dunia perhotelan,” terang Naniet Hernita pada Majalah Jendela.

“Pelatihan table manner ini, siswa akan mengetahui tata cara di hotel. Sopan kepada tamu,” tambah Ary Wahyu Ratnaningtias, S. Pd, Wali Kelas 10 Perhotelan 1.

Sementara itu, Anisa, Stefani, Andika, Michel, Raflyn, kesemuanya siswa kelas 10 Perhotelan 1 mengatakan bahwa mengikuti table manner bisa menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan.

“Mengikuti table manner akan bertambah ilmu dan bertambah pengalaman tentang hotel,” ujar Raflyn.

Imanda Bagus, cluster food and beverage manager
Amithya hotels and resort
Grand Darmo Suite menguraikan bahwa pelatihan ini sebagai fondasi dasar tentang perhotelan, khususnya food and beverage.

“Seyogyanya memang cukup sekali pelatihan table manner. Namun bisa juga lebih dari sekali. Tergantung permintaan,” kata Imanda Bagus.

Ditanya tentang situasi pandemi covid 19, F&B Manager Grand Darmo Suite Hotel ini mengatakan, “Selama pandemi, hotel kami tidak pernah tutup. Namun kami senantiasa menjalankan protokol kesehatan.”

Pandemi covid 19, telah terbukti menyulitkan segala lini kehidupan, termasuk pendidikan. Guru dalam mentranfer pelajaran harus lewat daring (jarak jauh). Tentu saja sisi ini, guru dan murid tidak bertatap muka langsung. Dalam hal ini, guru agak kesulitan untuk mengukur kemampuan personal setiap murid. Baik kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, spiritual, psikomotorik maupun nilai rasa seni budaya. Maka segala upaya lembaga-lembaga pendidikan mencari jalan keluar untuk menghadapi konstelasi ini.

Ada juga pihak sekolah, baik negeri maupun swasta, terutama sekolah-sekolah kejuruan, yang melaksanakan tatap muka. Namun hal ini sebatas pada praktik bidang kejuruannya masing-masing. Selebihnya, masih menggunakan daring.

(Majalah Jendela)