Libur tahun baru, stasiun kereta api Gubeng penuh sesak penumpang dengan berbagai barang bawaannya. Aku duduk di teras muka dengan menghisap rokok. Di sebelahku duduk pula dua pemuda yang hendak ke Blitar. Istriku juga berbincang-bincang bersama seorang ibu yang memangku anaknya.

“Berapa harga tiket ke Blitar dik,” tanyaku kepada pemuda yang di sebelah.

“Lima belas ribu pak,” jawabnya.

“Ini dalam rangka plesir apa sambang orang tua,” tanyaku lagi.

“Mudik pak, kangen keluarga di Blitar.”

“O, begitu. Di Surabaya kerja apa studi.”

“Kerja pak. Cari pengalaman. Setelah lulus es em ka saya merantau cari pekerjaan. Alhamdullilah cepat dapat, walau hanya jadi pegawai rendahan di kantor.”

Sembari menghisap rokok, aku masih menyimak dengan serius omongan pemuda Blitar ini. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa banyak pemuda-pemudi yang pergi ke kota-kota besar setelah lulus sekolah. Bahkan tidak sedikit yang pergi ke luar negeri untuk bekerja. Lebih jauh lagi pemuda ini mengurai keadaan di desanya. Seperti enggannya anak-anak muda yang turun ke sawah mengikuti jejak orang tuanya. Oleh karena itu, banyak lahan sawah, tegalan sudah menjadi bangunan. Sistem hubungan kerja di pertanian desa juga berubah. Yang dulu jaman kakek-neneknya kalau panen tiba, semua pada turun ke sawah. Sebab, walau tidak mempunyai sawah bisa membantu memetik padi dengan mendapat “bawon.” Bawon adalah bentuk upah atau imbalan dari yang mempunyai sawah kepada siapa saja yang membantu memetik padi (ani-ani). Yaitu, apabila mendapatkan beberapa onggok ikat padi, akan mendapatkan imbalan beberapa ikat padi. Belum lagi apabila waktu “nutu”. Yaitu para wanita desa beramai-ramai menumbuk padi
memakai alat “alu” dan “lesung.” Ini juga dengan sistem pengupahan “bawon.” Yaitu apabila menumbuk padi telah mendapatkan beberapa kilo beras, akan pula mendapatkan upah beberapa ons beras. Namun kini semua itu sudah berganti dengan adanya sistem borongan (tebasan) untuk memetik padi. Cukup di borong atau di tebas dengan hitungan rupiah. Ini hanya dilakukan oleh beberapa tenaga lelaki. Pun dengan “nutu” juga diganti sama mesin huller (mesin penggiling padi). Tenaga wanita untuk “nutu” padi menjadi beras, diganti dengan mesin giling padi. Berawal dari berubahnya sistem pengupahan ini, warga desa sudah banyak yang kehilangan pekerjaan. Yang dulu, sistem “bawon,” walau tidak mempunyai sawah, bisa menikmati hasil panen. Keadaan inilah, sebagai salah satu faktor (dari berbagai faktor) generasi muda pergi ke kota-kota besar, luar negeri, untuk mencari pekerjaan.

Suara pengumuman petugas stasiun Gubeng lewat pengeras suara terdengar tentang kereta Dhoho jurusan Surabaya-Blitar sudah masuk sepur satu (jalur 1). Dua pemuda itu mengulurkan tangannya, akupun mendekam erat tangannya. “Sampai ketemu lagi ya pak,” suaranya pelan. Aku mengangguk dengan haru.

Mendung tipis menyelimuti langit Gubeng. Banyak penumpang masih menunggu keretanya masing-masing. Aku juga demikian menunggu kereta jurusan Madiun. Istriku menyodorkan minuman. Aku minum beberapa teguk. Di sana-sini para penumpang masih bergunjing gerhana matahari cincin.

S e l e s a i

-Majalah Jendela-