Matahari belum tampak wajahnya, istana Madukara geger karena gedung perbendaharaan senjata dibobol maling. Senjata-senjata andalan ikut juga hilang. Keris Pulanggeni, keris Sarotomo dan panah Pasopati, kesemuanya adalah senjata andalan Pangeran Harjuna untuk membentengi istana Madukara dari serangan musuh.

“Patih Sucitro dan Senopati Perang Suroto, bagaimana ini bisa terjadi. Gedung senjata bisa dimasuki musuh. Dan semua senjata andalan juga bisa hilang,” tanya Pangeran Harjuna selaku Adipati Madukara kepada dua prajurit kepercayaannya itu.

Kedua punggawa istana Madukara itu hanya menundukkan kepalanya. Lalu Pangeran Harjuna bertanya sekali lagi, baru Patih Sucitro menjawab dengan suara pelan, “Ampun pangeran Harjuna. Sesungguhnya yang mengambil semua senjata di gedung perbendaharaan senjata itu adalah Raden Ayu Srikandi dan Raden Ayu Larasati. Oleh karenanya kami para prajurit tak kuasa menolaknya,” suara Patih Sucitro pelan.

Pangeran Harjuna berdiri dari duduknya. Dan matanya melotot memandang Patih Sucitro. Pangeran Harjuna meloncat tepat di depan Patih Sucitro, kemudian teriaknya, “He patih Sucitro, kau jangan lancang berbicara. Tidak mungkin kedua istriku mengambil senjata-senjata itu tanpa perintahku,” suara Pangeran Harjuna dengan nada tinggi sambil mengguncang-guncangkan badan Patih Sucitro.

Dalam pada itu juga Raden Ayu Srikandi serta Raden Ayu Larasati masuk ke paseban istana dengan jalan jongkok, lantas menghatur sembah kepada Pangeran Harjuna. Tak lama kemudian Raden Ayu Srikandi menjelaskan perihal hilangnya pusaka-pusaka istana Madukara.

“Duh pangeran, malam itu dua orang prajurit wanita dari kerajaan Amarta membawa surat dari Prabu Yudhistira yang diserahkan kepadaku, isi surat itu perihal meminjam senjata-senjata yang menjadi pusaka istana Madukara. Lalu tanpa pikir panjang hamba dan adinda Larasati minta izin Patih Sucitro dan Senopati Suroto. Dan hamba beserta adinda Larasati yang masuk gedung pusaka mengambil pusaka-pusaka itu untuk kami serahkan kepada prajurit wanita utusan raja Amarta. Tetapi kenyataannya pusaka-pusaka itu tidak sampai ke tangan Prabu Yudhistira, malahan jatuh ke tangan musuh, yaitu gerombolan-gerombolan bersenjata yang berpihak ke Kurawa di kerajaan Hastinapura. Dan lagi malam itu paduka tidak ada di istana Madukara, paduka masih berada di padepokan eyang Wiyasa di lembah gunung Arga Bangun,” papar Srikandi dengan hati-hati.

Namun Harjuna tidak mau tahu tentang hal ini, maka seluruh kesalahan ditumpahkan kepada kedua istrinya itu sebagai penanggung jawab istana Madukara tatkala dirinya tidak berada di istana.

Siang itu juga Raden Ayu Srikandi dan Raden Ayu Larasati (keduanya prajurit wanita) bersama Patih Sucitro, Senopati Suroto menyiapkan pasukan segelar sepapan untuk memburu pencuri pusaka istana Madukara.


Berkat ketajaman prajurit telik sandi Madukara, akhirnya ketahuan juga tempat persembunyian pencuri-pencuri pusaka.

Dikepunglah persembunyian gerombolan tersebut dan tak membutuhkan waktu yang lama, gerombolan dapat ditaklukkan. Kedua prajurit wanita Amarta yang menjadi penghianat dengan menjual pusaka-pusaka ke gerombolan, juga terbunuh oleh keris cundrik Srikandi dan Larasati.

Menjelang malam, sepasukan prajurit Madukara sudah sampai di Alun-Alun Madukara dengan membawa puluhan tawanan.

Raden Ayu Srikandi, Raden Ayu Larasati, Patih Sucitro dan Senopati Suroto membawa pusaka-pusaka yang dicuri musuh ke hadapan Pangeran Harjuna.

-Majalah Jendela-