LKS (lomba kompetensi siswa) Wilayah Kerja 1, Bojonegoro di buka oleh Dr. Hudiyono, M. Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur didampingi Drs. H. Budi Irawanto, M. Pd, Wakil Bupati Bojonegoro di Gedung Islamic Centre, Bojonegoro. “Kesempatan ini juga kami ucapkan selamat hari guru. Semoga guru bisa bahagia, sehat, sabar dan sukses,” kata Hudiyono dalam kata sambutannya. Tak lupa juga Hudiyono menyampaikan pesan Gubernur Khofifah agar tetap koordinasi dengan para bupati dan walikota di Jawa Timur.

Kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya menggegana di ruang gedung dengan hikmad. LKS kali ini dihadiri guru, siswa, Osis, MPK (majelis perwakilan kelas), MKKS, panitia serta undangan lainnya lagi. Tak luput Tari Gabyong dari Tari Tengul dan lantunan lagu-lagu ciptaan Didi Kempot dari siswa SMK Negeri 1, Bojonegoro yang ikut memeriahkan LKS.

Lomba Kompetensi Siswa SMK se Jawa Timur ditempatkan di Kabupaten Bojonegoro. SMK dengan varian jurusan diuji kemampuannya. Seperti otomotif, perhotelan, seni, textile, akuntansi dan lainnya lagi. Sementara yang dilombakan house keeping, tourisem industri, batik, band, marketing online, bilingual secretary, floristry, wall and floor tilling, auto mobile technology, mobile robotick, auto body rapair, restaurant service, cooking, cabinet making dan jenis lomba lainnya.

Tema LKS kali ini ialah “SDM kompetensi dan berkarakter menghadapi era digitalisasi.”

SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya juga turut ambil bagian dalam LKS tersebut. Dan sebagai guru pendamping serta pengarah adalah Abdul Kudus, S. ST. Par, MM untuk jurusan usaha perjalanan wisata (UPW), Sugiyanto, S. ST. Par untuk jurusan perhotelan. Siswa peserta lomba yaitu Vega, kelas 12 Perhotelan 7 untuk jenis lomba akomodasi perhotelan dan Alfarica, kelas 12 UPW untuk lomba kepariwisataan.

Dari jelajah Majalah Jendela kepada para guru pendamping lomba, LKS bisa menambah kemampuan siswa untuk berkreatif secara mandiri. Siswa bisa bekerja secara produktif serta tangguh memecahkan problem solving di era digitalisasi. “Namun yang utama adalah sikap perilaku yang sopan dan berbudi luhur,” harap Sugiyanto, S. ST. Par, guru pendamping SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya.

Sugianto, S. ST. Par

“Untuk bisa mengikuti lomba di Bojonegoro, siswa perlu latihan yang sungguh-sungguh,” tambah Totok Suhariyono, guru pendamping SMK Muhammadiyah, Lamongan.

SMK Negeri Jatirogo, Tuban mengikuti lomba TKR (teknik kendaraan ringan), Tata Busana, Akuntansi, RPL. ” Sekolah kami ikut LKS, agar siswa kami mempunyai pengalaman,” kata Puri Utomo, guru pendamping SMK Negeri Jatirogo, Tuban.

Sementara SMK Negeri 3, Buduran, Sidoarjo mengikuti lomba teknik pendingin, teknik kayu, teknik las dan komputer. “Setiap LKS, siswa kami selalu ikut. Siswa bisa tahu kekurangan dan kelebihan ketika lomba,” ujar Nardianto, guru teknik pendingin SMK Negeri 3 Buduran, Sidoarjo.

Stevani Rozalin Kiama, S. Pd, MM, guru pendamping Billingual Secretary, SMK Krian, Sidoarjo dan Devi Aryanti, guru pendamping, SMK Sepuluh Nopember, Sidoarjo, keduanya mengatakan dengan adanya LKS, diharapkan siswa bisa siap pakai di dunia kerja.

Lain halnya dengan Drs. H. Bahrun, ST, MM, Ketua Panitia LKS Wilayah Kerja 1, Bojonegoro sekaligus Kepala SMK Negeri 6, Surabaya optimis siswa wilayah kerja 1 Bojonegoro ( Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Bojonegoro) bisa lolos ke LKS tingkat nasional.

Apabila sudah demikian, motto SMK Bisa, SMK Hebat, SMK Santun, SMK Mandiri dan motto-motto lainnya, akan terbukti di dunia nyata.

-Majalah Jendela-