-HOTEL HARUS MENYEDIAKAN MAKANAN LOKAL-

Drajat Puspito, S. Pd, Guru Bahasa Inggris SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya, mendampingi anak didiknya dalam lomba “Shangri-La’s Den Business Competition” (18 Januari 2020).

Lomba tersebut diikuti National Star Academy (NSA), Surabaya, Xinzong, Surabaya, Singapura National Academy, Surabaya, SMA Ciputra, Surabaya, SMA Petra 2, Surabaya, SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya dan sekolah-sekolah peserta lomba lainnya. Baik sekolah asing maupun sekolah Indonesia.

Sarmila (12 AP 1), Agil Stiven (12 AP 1), Fahad Bamazruk (12 AP 4), Annisa (10 AP 1), Alfaricha (12 UPW), semuanya peserta lomba dari SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya, merasa optimis bisa berhasil menang. Bahkan sehari sebelum lomba, mereka minta doa restu kepada para guru. Dalam upaya untuk sukses, maka penampilanpun memakai seragam tradisional Cak dan Ning Suroboyo yang dirias oleh Ujang Suhendra, S. Pd, MM, K3 Tata Boga, SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya.

“Kami mempersiapkan diri dengan matang untuk lomba. Lawan kami sekolah-sekolah ternama. Seperti SMA Ciputra,” kata Sarmila.

“Yang akan diangkat untuk dipaparkan siswa kami dalam lomba ialah : Hotel harus mempunyai perencanaan yang matang, agar mendapat pengunjung dan tamu inap yang banyak. Hotel harus menyediakan makanan dan minuman lokal, terutama makanan dan minuman asli Surabaya. Seperti makanan tradisi Semanggi dan Lontong Balap. Oleh karena itu dulu ada lagu yang syairnya ‘Semanggi Suroboyo, Lontong Balap Wonokromo.’ Hotel harus memberi fasilitas tempat untuk mainan anak. Tiga poin ini yang dipaparkan dengan memakai bahasa Inggris di depan juri. Hal demikian bisa menjadi masukan untuk bisnis perhotelan. Termasuk Shangri-La’s Hotel,” terang Drajat Puspito di sela-sela kesibukannya.

Sementara juri lomba : Mr. Steward dan Mr. Joe, keduanya dari London.

-Majalah Jendela-