Putri (guru SMA), Nur (guru SMK), Dine (guru Paud), Erin (guru SD), kesemuanya mengajar di Kabupaten Trenggalek. Keempat gadis cantik ini meliuk-liuk gemulai di atas panggung mementaskan tari pembuka selamat datang “Beksan Sri Trunggali.”

Budaya tradisi sebagai identitas bangsa Indonesia seyogyanya di “Uri-Uri” dilestarikan oleh segenap anak bangsa. Baik yang lagi memegang tampuk kekuasaan maupun masyarakat pada umumnya. Sebab hanya bangsa yang menghargai budayanya sendiri yang akan dihargai oleh bangsa-bangsa lain.

Udara Pendopo Cak Durasim, Surabaya tidak terlalu panas. Sesekali angin sumilir mengusap hadirin yang sedang menikmati pagelaran Seni Tradisi Tayub.

Waranggono dari Kabupaten Trenggalek menabuh gending Ayak Gedog, Ndoro-Ndoro, Sri Rejeki, Ibu Pertiwi, Puji Rahayu, Puspo Warno serta gending-gending lainnya. Nyi Suyatmi, Nyi Puji Hartini, Nyi Sri Ani, Nyi Dewi Astuti, keempatnya penari tayub membawakan lagu-lagu gending tayub atas permintaan penonton.

“Kami sejak tahun 1994 sudah “manggung” dari kota yang satu ke kota lainnya. Oleh karenanya harus menguasai macam-macam gending. Gending ageng, gending madya dan gending alit,” aku Nyi Suyatmi dan Nyi Puji Hartini kepada Majalah Jendela sebelum naik pentas.

Ditanya membutuhkan waktu berapa lama untuk bisa menjadi sinden, “Kami hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk belajar menjadi sinden,” jawab keduanya dengan senyum manis.

Selesai

Poedianto,S.Pd,MM / Majalah Jendela