Oleh : Drs. M.Gufron

Alkisah, ketika vonis dijatuhkan oleh Raja Namrudz laknatullah Alaihi, karena terbukti Ibrahim muda telah memporak-porandakan rumah peribadatannya, termasuk patung besar yang dipenggal lehernya dengan kapak. Maka hukuman untuk Ibrahim harus dibakar hidup-hidup di atas kobaran api yang menjilat-jilat.

Rasa iba, hormat dan pembelaanpun datang dari seluruh makhluk Allah swt, yang nuraninya pasti berseberangan dengan Raja Namrudz yang ambisius itu.

Nah, Semut binatang kecil itupun tak ketinggalan ikut sibuk membawa air untuk memadamkan api besar yang membakar tubuh Nabi Ibrahim As.

Kala itu burung Gagak yang kebetulan berpapasan dengan Semut, tertawa dan terkesan meremehkan perilaku si kecil Semut.

Terjadilah dialog antara Semut dengan burung Gagak.

“Muuut, mengapa kamu modar-mandir membawa Air,” tanya Gagak pada Semut dengan nada meremehkan.

“He Gagak, hari ini tuanku Ibrahim dibakar oleh Raja Namrudz, karena itu walaupun tubuhku kecil aku berusaha turut serta membawa air untuk memadamkan api yang membakar tuanku. Aku menyadari, tidak mungkin bisa memadamkan kobaran apinya. Namun di benakku yang penting aku berbuat sesuatu untuk baginda junjunganku Nabi Ibrahim kekasih Allah Swt,” jawab Semut tegas.

Bila disimak secara hakikat, betapa indah kisah Semut ini. Walau badannya kecil, namun memiliki hati yang mulia.

Semut sadar bila usahanya itu tak berarti apa-apa bagi penderitaan orang lain, namun yang terpenting baginya adalah niat baiknya itu. Niat yang ia lakukan untuk menolong sesama.

Pembaca yang budiman, kisah ini menginspirasi kita semua. Walaupun kita bukan siapa-siapa, tidak memiliki apa-apa dan bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi alangkah baiknya jika mau berbuat sesuatu untuk sesama. Apalagi bagi yang kena musibah. Lebih besarnya lagi, bagi bangsa yang dilanda serangan Virus Corona ( Covid 19 ) yang daya penyebarannya sangat masiv. Efek dari Covid 19 berdeminsi luas. Tidak hanya gangguan kesehatan yang bisa membawa kematian saja, tetapi bisa merambah pada gangguan ekonomi. Seperti tidak bisa bekerja karena tempat kerjanya ditutup. Tidak bisa keluar rumah untuk mencari nafkah karena dianjurkan di rumah saja. Kesemuanya ini tidak hanya ditanggung oleh orang yang ditengarai terpapar Covid 19, tetapi masyarakat luas juga ikut menanggung dampaknya. Baik ekonomi maupun mental psikologis. Pemerintah juga sudah mengeluarkan PSBB, semua aktifitas warga dibatasi. Kondisi ini sungguh menyakitkan.

Maka, silahkan berbuat kebaikan. Bangun dan dorong semangat berbuat baik. Sebab bisa memperkuat Imunitas, menguatkan daya tahan tubuh. Berdo’alah untuk siapa saja agar selamat dari serangan Virus 19. Berdo’alah kepada Allah untuk yang sakit, agar cepat sembuh. Sungguh, hari ini dunia diguncang oleh makhluk kecil yang notabene dianggap tidak punya kekuatan.

Perbanyaklah menghibur dengan tip-tip sehat, konsumsi tumbuh-tumbuhan herbal yang terjangkau untuk diusahakan, agar badan selalu prima.

Sungguh wabah ini menjadikan kepanikan yang luar biasa bagi manusia. Ironisnya wabah ini timbul pada era kemajuan teknologi yang canggih dan era millenial yang dibangga-banggakan.

Dalam Hadis Qudsy, walaupun dinilai hadis tingkatan Hasan. Rasul pernah bersabda, ketika Allah hendak menurunkan bencana (wabah) di muka bumi, Allah masih mempertimbangkan tiga hal. Yaitu, orang-orang yang memakmurkan rumah-rumahku, saling sayang-menyayangi dan banyaknya orang yang istighfar di waktu sahur, maka Allah akan tarik bencana (wabah) itu. (Al Hadis).

Memang takdir Allah Swt sudah berjalan, kitapun mengimani seyakin-yakinnya bahwa takdir Allah tidak ada yang salah. Tetapi ada ruang lain sebagai cara Allah Swt untuk mengampuni dan merahmati hambaNya.
Wallahu a’lamu bi shawab * * *