Pemberontakan rakyat Blambangan (Banyuwangi) terhadap penjajah Belanda semakin hari semakin berkobar. Pangeran Rempek Jokopati sebagai pemimpin pemberontak sudah berjuang dengan berbagai taktik. Perlawanan terbuka maupun gerilya untuk melawan Belanda sudah dilakukan. Namun masih saja mengalami kesulitan.

“Ki Kerpo, kau sebagai kepala telik sandi, bagaimana musuh bisa tahu gerakan kita. Perlawanan terbuka, bahkan perlawanan gerilya yang kita jalankan, musuh selalu tahu siasat kita,” suara Pangeran Rempek Jokopati di tempat persembunyian tengah hutan.

“Duh pangeran, itu yang membuat hamba juga bingung. Tetapi menurut laporan telik sandi kita, kompeni dibantu secara diam-diam oleh beberapa bangsawan Blambangan sendiri,” papar Ki Kerpo pelan dengan menundukkan kepala. Lalu katanya kemudian, “Pangeran, bolehkah hamba berterus terang dalam hal ini,” kembali Ki Kerpo diam sejenak.

“Ya katakan dengan jelas, supaya aku tahu siapa antek-antek kompeni di Blambangan,” suara Pangeran Rempek Jokopati meninggi.

“Pangeran Alap Alap Senaji yang membantu kompeni,” sahut Ki Kerpo dengan pelan.

Pangeran Rempek Jokopati meloncat di atas batu besar. Tangan kirinya menyilang di dada, tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Kedua kakinya dalam posisi kuda-kuda. Dan, meloncat dari batu pijakannya ke batu di depannya, lantas dihantamlah batu sebesar anak kerbau itu dengan telapak tangannya. Suara gemuruh terdengar, batu tersebut pecah berantakan oleh telapak tangan Pangeran Rempek Jokopati yang marah. Ki Kerpo dan beberapa prajurit telik sandi juga meloncat mundur ketakutan.

Berbareng dengan itu terdengar suara tawa wanita berkepanjangan. Kemudian tampak seorang wanita berdiri dibalik rerimbunan dengan memakai pakaian lelaki serba hitam. Dibalik bajunya terselip keris cundrik yang warangkanya berwarna keemasan. Kemudian terdengar suaranya meninggi, “Kakang Rempek Jokopati, kau harus percaya dengan penjelasan Ki Kerpo. Sebab itu semua sudah aku ketahui sejak lama. Kakang Alap Alap Senaji memang mempunyai maksud untuk mengganti kedudukanmu. Tetapi dia licik, dengan menggunakan tangan kompeni untuk menumpas gerakan kakang Rempek Jokopati,” kata wanita yang berdiri dibalik rerimbunan itu.

“Oh, adinda Sayu Wiwit, rupanya kau lebih paham tentang persoalan ini, kemarilah,” pinta Pangeran Rempek Jokopati kepada Sayu Wiwit.

Maka perbincangan semakin mendalam untuk membahas persoalan penjajahan Belanda di tanah Blambangan.


Tengah malam, markas kompeni di wilayah Alas Kluweh (sekarang Blimbing Sari) disergap sepasukan prajurit Pangeran Rempek Jokopati dibantu prajurit pengawal Raden Ayu Sayu Wiwit.

Pangeran Rempek Jokopati mengamuk dengan tombak pendeknya. Ki Kerpo juga tak kalah gesitnya dengan menerobos ke barisan serdadu kompeni. Raden Ayu Sayu Wiwit menghadapi lawan yang tangguh, yaitu Pangeran Alap Alap Senaji.

Singkat cerita, serdadu Belanda tunggang langgang. Banyak serdadu kompeni yang mati. Yang hidup menyerahkan diri menjadi tawanan. Pangeran Alap Alap Senaji menghembuskan nafas terakhir oleh keris cundrik Raden Ayu Sayu Wiwit.

S e l e s a i

Sabar Hariyanto Sutradara Banyuwangi bersama Majalah Jendela di Pendopo Cak Durasim, Surabaya (23 Agustus 2019)

-Majalah Jendela-