Oleh: M. Avif Ziaul Cholil S.Pd
Guru Pendidikan Agama Islam

Akhir-akhir ini kita sering mendengar lagu dengan lirik “Wong ko ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke, yo mesti kalah” kan?  Penggalan lirik lagu berbahasa Jawa yang berjudul “Ojo Dibandingke” ini dipopulerkan oleh Abah Lala dan pernah di viralkan oleh penyayi cilik yang bernama Farel. Penggalan lirik lagu ini kurang lebih mempunyai arti “Orang seperti ini kok dibanding-bandingin sih? Disaing-saingin? Ya pasti kalah dong”. Nah menurut penggalan lirik tersebut, tentunya tidak ada orang yang seneng dibanding-bandingin, orang tersebut selalu merasa kalah kalau dibandingkan dengan orang lain. 

Sehubungan dengan itu, ada sebuah ungkapan di dalam filosofi Jawa yang berbunyi “Sejatine Urip Kuwi Mung Sawang Sinawang”. Ungkapan tersebut memiliki arti kurang lebih yaitu : “Hakikat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana cara memandang/melihat sebuah kehidupan”.
Sawang sinawang merupakan perilaku untuk tidak membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain, karena apa yang dilihat atau dipandang dari kehidupan orang lain belum tentu seindah kenyataannya.
Apa yang bisa kita petik dari kehidupan orang lain. Tampak dilihat lebih sukses, kaya, atau bahagia, sejatinya belum tentu kehidupannya lebih enak dari kacamata orang yang memandang. Bukan tidak mungkin mereka yang kita anggap mempunyai kehidupan lebih enak dari kita, sesungguhnya itu mempunyai beban yang lebih berat dari kita.  Kebanyakan orang terkecoh hanya dengan penampilan seseorang secara fisik saja. Kita tidak tahu seberat apa masalah dalam hidup orang yang kita pandang itu. Sebesar apa tanggung jawabnya ? Bagaimana cara dia memperoleh kesuksesan. Dengan mati-matian dan segala bentuk perjuangan lainnya. Mungkin saja ketika melihat kehidupan orang lain yang lebih bahagia dari kita, mungkin karena orang itu pandai menutupi kesedihannya, atau selalu bersyukur, dan bersabar.
Sungguh ungkapan yang sangat singkat padat dan sederhana, akan tetapi memiliki kedalaman makna yang sangat luas secara hakiki.
Selaras dengan ungkapan Jawa tersebut, ada sebuah kisah dari Timur Tengah, konon diceritakan dahulu ada seorang pemuda mengadukan nasib kepada ulama. Ia berharap agar ulama tersebut mendoakan supaya nasibnya menjadi baik.

Beberapa waktu kemudian datang lagi pemuda itu. Sambil menggerutu dan dia berkata “wahai ulama’ nasibku kok belum kunjung membaik, tolonglah aku”. Ulama itu hanya tersenyum, sambil berkata “Kumpulkan seluruh penduduk dihadapanku dan suruh mereka menulis semua permasalahan yang sedang mereka alami.”

Kemudian ulama itu membacakan tiap-tiap lembar kertas yang berisi permasalahan seluruh penduduk kala itu. Setelah itu ulama tersebut berkata “Semua permasalahan penduduk sudah kubacakan dihadapanmu, sekarang hidup seperti apa yang kau inginkan wahai pemuda?”

Pemuda itu sontak menjawab sambil bergetar “Tidak..tidak..wahai ulama, aku ingin hidup seperti ini saja.”

Secara dhohir hidup bergelamor, banyak harta, tinggi jabatan, tidak menjamin hidup bahagia. Sebaliknya hidup pas-pasan, penuh kesederhanaan juga tidak menjamin hidup sengsara. Semua itu, hanya satu kuncinya “Bersyukur dengan yang kamu miliki”.

Avif, S. Pd.

Allah menguji hambanya sesuai kapasitasnya, always _husnudhon ilalla* * *