Pandita Durna, yang masa mudanya bernama Bambang Kumboyono. Durna telah meniti kariernya hingga berhasil sebagai Pandita dan dipercaya menjadi Guru di Negara Hastina Pura. Sebagai pandita karena menanamkan ajaran moral dengan mengajarkan kitab-kitab religi kepada para kesatria Hastina Pura. Yaitu Kurawa dan Pandawa. Harapannya para siswa menjadi halus budi. Dengan demikian akan bisa membangun nilai-nilai luhur terhadap sesama.
Sebagai guru telah mendidik ilmu dan pengetahuan. Baik ilmu dan pengetahuan pemerintahan, perang dan ilmu menggunakan senjata. Guru Durna mengajarkan ilmu pemerintahan, kemanusiaan, teknik perang, teknik penggunaan senjata kepada semua siswanya. Tanpa pilih kasih. Dengan demikian membangun kekuatan fisik, olah kanuragan, olah rasa senantiasa mendapat bimbingannya. Pandawa dan Kurawa, secara adil tanpa ada pilih kasih mendapat semua materi ajarannya.
Semua murid tersebut menerima ajaran dengan bobot timbangan yang sama. Durno memandang olah rasa dan olah raga adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Olah rasa membangun ketajaman batin, sementara olah raga membentuk kekuatan raga. Dan diibaratkan bagai sekeping mata uang yang kedua sisinya mempunyai gambar berbeda. Tetapi satu kesatuan yang utuh.
Para siswa menyimak dengan seksama setiap ajaran.

Dalam perjalanan waktu hasil yang didapat antara Kurawa dan Pandawa mempunyai kharakter serta kepandaian yang sangat beda. Kurawa mempunyai sifat yang tamak, serakah serta mengedepankan kepuasan materi semata. Sementara Pandawa berbudi luhur, mengalah, tidak materialistik. Untuk meraih kebahagiaan hidup senantiasa mengutamakan kepentingan bersama.

Dan apa yang salah?
Kita kaji lingkungan, baik keluarga maupun pengasuh di rumah. Kurawa diasuh oleh sang paman yang mempunyai watak iri, dengki dan tamak. Dari sang paman yang bernama Sangkuni inilah membentuk watak jelek terbangun.

Sementara Pandawa diasuh oleh sang ibu, Dewi Kunti, yang sudah menjanda sejak putra-putranya kecil. Dengan penuh derita dan upaya yang sungguh-sungguh, mencarikan nafkah anak-anaknya. Dewi Kunti mendongengkan segala bentuk cerita yang dialami untuk dijadikan suri tauladan dalam meniti kerasnya kehidupan. Sehingga Pandawa tabah, tahan dalam menghadapi pergumulan hidup keseharian.
Kedua eskalasi inilah yang pada gilirannya membentuk watak serta sepak terjang masa depan semua murid Begawan Durna.

Suatu siang, Sangkuni memanggil semua keponakannya yaitu Kurawa, menanyakan hasil pendadaran ilmu. Baik pemerintahan, perang, sastra yang ditimba selama menjadi siswa Guru Durna. Sebab kerabat Hastina sudah mengetahui bahwa Pandawa lebih unggul dari Kurawa.

Lantas kemudian Sangkuni mengajarkan siasat buruk. “Anak-anakku Kurawa semua dari yang sulung hingga yang bungsu. Kalau semua berargumentasi beradu dada, beradu segala sesuatu dengan Pandawa, jelas hasilnya, kalian akan kalah. Itu bukan kemampuan Kurawa yang kurang, namun gurumu Durna yang pilih kasih dalam memberikan ilmu pada siswanya. Pandawa dikasih penuh, kalian para Kurawa hanya dikasih separuh. Gurumulah yang tidak adil. Dan karenanya, mulai sekarang para Kurawa harus menggunakan cara yang lebih licin,” urai Sangkuni dengan akal busuk.
“Maksud Paman?” sahut Kurawa.
Dengan senyum sinis, Sangkuni meneruskan, “Anak-anakku, dengan berbagai cara Pandawa harus sirna di dunia. Misal, kita adakah pesta kelulusan siswa di dalam pesta kita bikin mabuk para Pandawa, setelah mabuk kita kubur dengan kayu, dan kemudian bakar,” suara pelan Sangkuni.

Dewi Kunti memanggil anak-anaknya setelah selesai dalam berguru pada Pandita Durna. Pandawa lulus dalam pendadaran, namun tanpa ada puja-puji, malahan memberi siraman pada anak-anaknya agar kelulusan dipakai untuk ikatan meniti ke jenjang berikut. Dan yang lebih penting dari itu semua, Pandawa jangan membanggakan ilmu hanya sebatas berlandaskan kesombongan, bahkan seharusnya ditularkan pada siapapun yang membutuhkan, dan tutur Dewi Kunti berikut. “Setelah menimba ilmu, kalian seharusnya mengamalkan pada sesama. Bukankah kalian diajari oleh Guru Durna. Jadilah kalian sifat bulan karena menerangi pada malam hari, jadilah sifat air karena air mengairi kehidupan, dan seperti sifat-sifat yang ada pada ajaran kebajikan. Bukankah ini ada dalam ilmu pengetahuan agama. Jangan hanya tamat dalam membaca, namun juga tamat dalam memaknainya,” Dewi Kunti diam sejenak, dipandangilah satu persatu putra Pandawa. Dan kemudian, “Paham maksud ibu anak-anakku,” Hamba kanjeng ibu,” sahut Pandawa bersama. Kedua pengaruh lingkungan keluarga inilah yang membedakan antara Kurawa dan Pandawa. Yang satu mengajari kelicikan, pokok maksud tercapai. Yang satu mengajari kebajikan untuk peduli pada sesama, walau berkembang walau terkadang mengalami derita. Yang satu dalam menempuh keinginan dengan ukuran materi, Yang satu dalam menempuh keinginan dengan ukuran surgawi. Keduanya bertolak belakang, keduanya menempuh jalan beda. Dan disinilah bibit pertama pecahnya perang Barata Yudha. Kalau demikian, salahkah Durna mendidik?

Selesai.

Poedianto
Guru SMK Satya Widya Surabaya