Oleh : Drs. Khoirul Wadud
Guru Bahasa Indonesia

Kesedihan harus dihentikan, tapi tidak dengan kematian. Frustrasi harus diterapi, barangkali dengan datang ke sungai.

Rolak Jagir sedia menerima siapa saja, apa adanya, dengan sebaik-baik penerimaan, betapa pun gemuruh isi dada sang pendatang, betapapun compang-camping baju diri dikenakan.

Saya datangi Rolak Jagir tanpa tujuan memutus kesedihan. Saya datang lebih karena kebetulan, bukan untuk terapi kefrustrasian. Saya datang oleh ajakan seorang teman yang suka melihat ikan. Ajakan teman saya pun tanpa maksud bukan-bukan, selain menunjukkan tempat banyak ikan.

Saya muda dan belum lama urban. Demikian saya ingin nyatakan:
Saya baru membuktikan, bahwa senja juga turun di Rolak Jagir. Cahayanya teduh dan lembut, mencelup dan memantul di air bening dan tenang.

Senja di Rolak Jagir seperti lukisan, dengan spot sesudut Surabaya zaman dulu: Wanita dan anak-anak mandi di sungai. Orang-orang berjoran berjajar menghadap sungai. Cahaya memoles dengan warna berseri.

Saya nyatakan demikian:
Saya jatuh cinta pada Rolak Jagir begitu saja. Saya kira ini anugerah tak terkira, si putus ngaisah jatuh cinta pada dam tua peninggalan Belanda, di sungai purba kota kita.

Harus saya ceritakan, saya jatuh cinta pada Rolak Jagir melalui proses putus cinta dari seorang saja. Pada Rolak Jagir, saya jatuh suka pada interaksi orang terhadap sungai, melalu proses putus suka pada sedikit orang, yaitu orang yang saya kirakan menyokong putus cinta saya dari satu orang.

Saya lanjutkan mencakapkan Rolak Jagir. Saya katakan, Rolak Jagir itu tempat penampung banyak orang susah, lungkrah, lungkrah dan putus ngaisah. Putus ngaisah sebab patah.

Saya lanjutkan.
Seumur ini saya baru saksikan, bukan hanya senja yang turun di Rolak Jagir. Malam juga merapat di sini, menggelapi seruas tepi sungai ini. Indera mata saya juga melihat pasar malam digelar di sini.

Malam turun di sini, maka tidak terlihat lagi orang turun ke sungai untuk mandi, kecuali mereka yang tidak ingin aurat mereka menjadi bagian dari kemolekan sungai senja hari.

Malam turun di sini, tidak tampak lagi orang turun ke sungai untuk mencuci. Yang ada, orang turun untuk mengambil bertimba-timba air untuk mengisi timba-timba besar untuk mencuci bagian vital dari diri, yang disediakan di depan setiap bilik di gisik sungai, bilik persewaan untuk eksekusi cinta fana, yang ditawarkan di remang pasar malam, di jembatan rel kereta api.

Putus kuliah, putus cinta, dan putus ngaisah berkomplot menjadi hantu tengil, menunggang di tengkuk saya, menjadi penghela kepala saya ke manapun saya menghadap.

Segala kebaikan di luar diri dari masa lalu dan hari ini, diubah jadi limbah oleh hantu tengil, disuguhkan kepada saya sebagai bahan berpikir dan merasakan. Gairah hidup saya menghadapi zaman dengan kepalan tangan, kikis dikerat hantu tengil seperti tikus mengerat jagung . Selera humor saya dicamilnya setiap saat seperti camilan keripik kentang.

Selera humor saya kikis tinggal intip, oleh sebab itu, dengan amat serius saya mengerahkan segala daya fantasi agar senja turun lama di sini, di rolak ini. Tetapi, baru saja senja akan berhenti, hantu tengil di tengkuk saya menghalau senja dan berolok-olok, tak ada yang boleh mengulur waktu di rolak ini.

“Kalau tidak ada yang boleh mengulur waktu, bolehkah saya bertemu yang bisa melipat wsktu?” Ingin saya.

Hantu tengil bersaran, “Utarakan maumu pada gelandangan, orang gila, pelacur, banci kere, dan orang susah yang tersesat ke tempat ini. Carilah sang pelipat waktu bersama mereka atau temukan di antara mereka. Hihihi.”

Saya timpali tawa hantu tengil di akhir kalimatnya dengan tawa pula, huhuhu.

“Kalau begitu saya tidak lagi berharap bersua sang pelipat waktu di antara mereka, pun tidak mencari sang pelipat waktu bersama mereka. Namun begitu, bolehkah saya di sini membawa maksud belajar mengail saja, mengail udang galah, sampai sampai piawai?”

“Jika itu maumu, kau mesti observasi sungai ini dalam beberapa peride air pasang tertinggi. Kau mesti amati siang malam pada paruh akhir musim kemarau di rolak ini. Hihihi.”
“Huhu”
Hantu dekil melanjutkan,
“Tetapi, di luar musim mengail udang galah di tempat ini, di sepanjang musim hujan sampai paruh awal musim kemarau, ke mana kau akan pergi?”
Saya menjawab, “Saya akan pergi ke dekat ujung sungai ini, ke tempat pertemuan udang galah jantan dan betina untuk kawin, mengikuti petunjuk buku panduan mengail udang galah pada musim hujan. Kecuali itu, saya akan datangi suatu tempat di mana festival mengusir hantu tengah berlangsung.”
“Festival mengusir hantu, Hihihi,” hantu tengil menertawai. “Menarik rik. Kapan itu terjadi?”

“Suatu masa ketika hantu di tengkuk saya mulai takluk.”

“Hihi, huhu, haha,” hantu di tengkuk saya terkekeh.

Sebab kehilangan rasa jenaka, saya mengangguk-angguk. Lebih tepatnya, kepala saya didorong-doring hantu tengil dari tengkuk sehingga saya tampak mengangguk-angguk.

Sebab dijoki hantu tengil ke mana saya pergi, saya kehilangan takut menembus malam turun di sini.

Ketika air merambat naik dari surut terendah, dengan sorot sentolop saya amati arakan anak udang bergerak ke arah pintu air. Arakan yang tak putus-putus. Saya merasa senang melihat pendar mata arakan anak udang itu. Pendar-pendar yang mengingatkan nyala oncor yang dibawa arakan anak-anak di gelap malam pada malam mejelang lebaran. Saya terasyikkan mengami anak-anak udang ini seolah mengamati masa kanak sendiri, berhilir mudik menyisir tepi sungai.

Anak-anak udang itu, saya kira sebagian banyak dari mereka berjenis udang galah. Anak-anak udang galah itu, saya kira juga akan hilir mudik di pinggir sungai ini seperti saya, sebab perjalanan mereka menyongsong air tawar pasti berakhir di depan pintu rolak.

Anak-anak udang ini sampai di sini tentu telah menempuh perjalanan cukup jauh dari tempat mereka tertetaskan, yaitu di air payau di dekat muara. Perjalanan naluriah anak-anak udang ini setelah tertetas adalah menyusuri tepi sungai ke arah asal air tawar mengalir.

Tetapi sayang, perjalanan mereka berakhir di situ, di depan pintu air. Kalau tidak terhalang pintu air, anak-anak udang galah terus menyusur sampai ke hulu, melewati Mojokerto, Jombang, dan terus ke barat sana. Mereka akan kembali mendekati muara melewati tempat ini lagi ketika masa kawin tiba, untuk membuahi atau dibuahi.

“Mengamati anak udang menyenangkan. Mencintai anak orang memusingkan.”
Seloroh hantu tengil di tengkuk saya.

-Majalah Jendela-