Munculnya berbagai jurusan (kompetensi keahlian) di sekolah kejuruan membuat banyak pilihan bagi peserta didik. Ada multi media, pedalangan, teater, hotel, kuliner usaha layanan pariwisata, batik, kulit dan berbagai konsentrasi keahlian lainnya. Novita Eka Safitri, siswa kelas 12 Kuliner, mengatakan sejak duduk dibangku SMP sudah tertarik pada bidang kuliner. “Tatkala di SMP, aku suka memasak cireng, pisang nugget dan nugget ayam,” aku gadis manis ini dengan sungguh-sungguh.

Dunia selalu mengalami perubahan. Hubungan-hubungan kemasyarakatan juga mengalami perubahan. Ini juga diiringi perubahan hubungan-hubungan ketenagakerjaan. Maka dunia usaha dan dunia industri mengalami perubahan juga. Sekolah kejuruan juga menyediakan ragam konsentrasi keahlian. Dan bak jamur di musim hujan, sekolah kejuruan membuka jurusan sebanyak-banyaknya. Baik SMK negeri maupun swasta. Sudah barang tentu harus sesuai dengan standar dunia usaha dan dunia industri (dudi).

Seperti di jurusan Kuliner ada materi Table Set Up (menata perlengkapan makanan). Ini diajarkan secara teori dan praktik.

“Tata hidang, pelayanan makanan yang kami ajarkan sesuai dengan standar dunia. Pelajaran ini langsung praktik di ruang Kirana Resto,” ujar Aris Susanto, S. Pd, Guru Kuliner SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.


Perubahan Media Belajar

Siang ini (15 September 2022) di Kirana Resto, SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya melakukan Work Shop tentang Perancangan Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pengembangan Media Pembelajaran.
Sebagai narasumber Dr. Fajar Arianto, Dosen Unesa. Acara ini dihadiri Dra. Emie Ismiatie, M. Pd, Pengawas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Drs. Hery Musika Djaya, MM, Kepala SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya dan segenap guru.

Dunia sudah berubah, artinya hubungan-hubungan kemasyarakatan berubah pula. Karena teknologi informasi sudah handal, maka komunikasipun juga lewat alat-alat komunikasi yang handal pula (gadget). Media komunikasi tidak hanya bisa merubah pengetahuan, tetapi bisa juga untuk merubah sikap perilaku (attitude). Maka keadaan wahana pendidikan juga berubah. Dari behavioristik ke konektivitas, teacher center ke student center, klasikal ke virtual dan keteraturan ketidakaturan.

“Buku teks masih penting. Sebab merupakan panduan. Siswa belajar itu dari berbagai sumber,” kata Fajar Arianto.

Drs. Ec. Margiono, MM, Guru Sejarah, mengutarakan bahwa kemajuan teknologi informasi tidak mutlak untuk media pendidikan. Tetapi media-media yang klasik juga diperlukan untuk memajukan pendidikan.

“Pendidikan itu harus totalitas. Tidak serta merta hanya alat-alat modern yang dibutuhkan. Namun, guru secara lisan memberikan motivasi kepada siswa di dalam kelas itu juga penting. Substansinya klasikal masih dibutuhkan,” papar guru senior ini.


Poedianto
Guru SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.