Oleh : Poedianto

Setelah sholat ashar, Daruji mengayuh sepeda ontelnya menuju alun-alun kabupaten. Di boncengan sepeda terikat bakul yang berisi 35 bungkus nasi. Persis di bawah pohon sawo kecik, Daruji menurunkan bakul dari boncengan sepeda. Lalu, sepedanya dijagang tengah. Di atas boncengan sepeda ditaruh triplek ukuran kecil untuk alas meletakkan beberapa nasi bungkus. Ada sepuluh nasi bungkus yang sudah tertata rapi. Kemudian Daruji mengeluarkan selembar kardus putih yang dilipat empat dari tas kresek. Kedua ujung bagian atas kardus ada tali pengikat. Lipatan kardus itu dibuka dan digantungkan di setir sepeda bagian muka. Dan tampak tulisan “Sedia Nasi Bungkus”.

Tak seberapa lama, pelanggan Daruji sudah ada yang datang. Ada yang beli dua bungkus, tiga bungkus bahkan ada juga yang borong lima bungkus. Macam-macam menunya. Ada bali pindang, ayam, telur dan lainnya. Pelanggan Daruji dari golongan ekonomi bawah. Kuli batu, tukang becak dan yang lainnya lagi. Tak lama kemudian, habislah 35 bungkus nasi dagangan Daruji.

Alun-alun sudah redup. Matahari sudah ditepi cakrawala barat. Terdengar suara orang membaca ayat-ayat suci dari masjid. Tanda waktu buka puasa segera tiba. Daruji sudah mengayuh sepeda ontelnya. Kini arah sepeda Daruji menuju warung sudut desa. Terengah-engah nafas Daruji. Memang jarak warung sudut desa dengan alun-alun kabupaten tidak terlalu jauh. Namun hari ini, ya hari ini awal ibadah puasa ramadhan. Sudah barang pasti Daruji juga menunaikan ibadah puasa.

Sepeda ontel sudah masuk pelataran warung. Sepeda disandarkan di pagar. Daruji menjinjing bakul yang sudah kosong ke belakang warung, lantas diletakkan di pojok dapur warung.

“Alhamdullilah nasi bungkusnya habis terbeli Yu Girah. Ini uangnya,” suara Daruji kepada pemilik warung yang dipanggil Yu Girah. Daruji menyerahkan beberapa lembar uang kepada Yu Girah dan uang hasil keuntungannya dimasukkan di saku celana.

Daruji duduk di bangku panjang dalam warung. Dan di dalam warung itu juga sudah ada dua orang yang sedang berbincang-bincang. Kesemuanya menunggu waktu buka puasa.


Sore itu angkasa cerah. Bahkan Lintang Panjerino sudah terlihat di ufuk barat. Ramai alun-alun kabupaten. Terutama yang punya keperluan membeli sayur, lauk, jajanan untuk buka puasa. Nasi bungkus dagangan Daruji juga sudah habis. Hari ini Daruji membawa 40 bungkus dari Yu Girah. Menunyapun seperti biasanya. Sore itu Daruji masih enggan pulang. Daruji berniat buka puasa di alun-alun. Rupanya Daruji sudah pesan segelas kopi panas dan dua potong pisang goreng dari warung terdekat. Daruji duduk di atas rumput dengan beralaskan koran. Kemudian ada lelaki yang rambutnya sudah putih menghampirinya. Lelaki itu meninting tas kresek berisi jajan gorengan dan sebotol air putih.

“Nyuwun sewu, boleh saya duduk disini. Menunggu waktu buka mas,” suara lirih orang yang rambutnya sudah memutih itu.

“O, inggih bapak. Tetapi disini kotor,” kata Daruji.

“Terimakasih mas. Ini saya juga bawa koran buat alas duduk.” Orang itu langsung membuka koran, digelar diatas rumput dan duduk menghadap Daruji.Tak lama kemudian suara adzan terdengar, lantas keduanya menikmati minuman dan makanannya masing-masing. Lelaki itu meminum air putih beberapa teguk. Daruji menyeruput kopi hitamnya. Daruji menawarkan rokok kepada lelaki itu, kemudian keduanya menghisap rokoknya dalam-dalam.


Seperti biasanya, sore itu Daruji sibuk melayani pembeli. Rupanya dagangan Daruji tinggal dua bungkus nasi saja. Tiba-tiba Daruji mendengar orang menyapa dari belakang. Daruji menoleh, ternyata bapak berambut putih itu tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Wah, laris ya sore ini.”

“Alhamdullilah pak,” sahut Daruji. Kemudian Daruji memasukkan satu bungkus nasi ke tas kresek dan diberikan kepada orang berambut putih.

“Ini buat buka nanti pak,” kata Daruji sambil memberikan tas kresek tersebut. Orang berambut putih itu menerimanya dengan ucapan terimakasih.

Kumandang adzan mahgrib sudah terdengar. Daruji dan orang berambut putih makan buka berdua.

Setelah makan untuk buka, orang berambut putih menceritakan pengalamannya kepada Daruji. Ketika muda dulu bekerja di pabrik selama belasan tahun di kota besar. Suatu saat pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Semua karyawan diberhentikan dengan pesangon yang tidak seberapa.

“Uang pesangon saya bawa pulang ke desa. Lama-lama habis untuk makan,” suara orang berambut putih itu menurun. Daruji memandanginya dengan seksama. Dahi orang itu sudah berkerut, pipinyapun berkeriput.

“Keluarga bapak ada dimana. Maksudku istri serta anak-anak bapak,” tanya Daruji serius.

“Saya tidak berumah tangga. Sampai di hari tua ini saya masih sendiri.. Ada dua adik-adik saya. Mereka sudah bersama keluarganya masing-masing. Tetapi hidup mereka juga pas-pasan,” suara orang itu lirih.

Angin berembus pelan. Udara malam terasa dingin. Di langit bintang gemintang bekerdipan satu dengan yang lain. Kemudian orang berambut putih itu bertutur lagi tentang cerita kehidupan. Cerita kehidupan selalu pasang surut. Kadang suka, kadang pula duka. Senantiasa berganti posisi. Di atas, samping, tengah, bawah. Berputar seperti roda. Itu yang disebut Cakra Panggilingan. Daruji hanya bisa mengangguk-angguk. Sudah sering mendengar cerita kehidupan dari orang lain. Tetapi cerita orang berambut putih ini terbesit banyak sisi-sisi lain. Di benak Daruji lelaki ini sudah kenyang makan asam garam. Kenyang akan pahit dan getirnya kehidupan. Menurut Daruji, cerita hal ini bisa dipakai sebagai pengingat untuk meniti jalan ke depan.

“Mas Daruji suka kisah wayang,” tiba-tiba orang berambut putih bertanya kepada Daruji.

“Ya suka. Saya sering nonton wayang kulit.”

“Pernah nonton kisah Ramayana.”

“Pernah, tetapi hanya sebatas alur kisahnya saja.”

Orang berambut putih itu mulai menerangkan inti sari kisah Ramayana kepada Daruji. Perang besar terjadi antara prajurit Sri Rama melawan prajurit Rahwana. Perang ini terjadi karena istri Sri Rama yaitu Shinta diculik oleh Rahwana.

Dalam perang itu, digambarkan prajurit Sri Rama berwujud kera. Walapun prajurit kera tetapi berhati putih, yaitu Hanoman. Sementara prajurit Rahwana digambarkan berwujud raksasa. Raksasa simbul watak angkara. Kisah ini adalah perang kabaikan melawan keburukan. Sri Rama sebagai satria yang baik hati. Rahwana sebagai pecundang yang banyak rupa. Perusak, pencuri, semena-sema dan selalu bertindak merugikan sesama. Maka keburukan harus diperangi. Memeranginyapun selalu menggunakan hati yang bersih, hati yang putih.
Sri Rama berhasil membunuh Rahwana dengan cara membakar tubuh Rahwana. Sebab perbuatan angkara bisa lebur dengan cara dibakar.

“Mas Daruji, sesungguhnya di dalam diri kita ini bersemayam Sri Rama sekaligus bersemayam Rahwana. Kebaikan dan keburukan. Dan sewaktu-waktu akan meledak peperangan besar dalam diri kita. Agar sifat-sifat baik bisa menang, sifat-sifat buruk harus dibakar hingga hangus,” suara orang berambut putih itu semakin lirih.

Daruji diam tak berkata-kata apapun setelah mendengar kisah Ramayana dari orang berambut putih. Alun-Alun kabupaten masih ramai orang berlalu-lalang mencari kebutuhan masing-masing. Daruji dan orang berambut putih masih berbincang tentang kehidupan.
Malam ini orang berambut putih diajak menginap di rumah Daruji.


Pagi hari Daruji sudah menimba air dari sumur belakang rumah untuk mengisi jamban tempat mandi. Sementara orang berambut putih melihat-lihat pekarangan samping dan belakang rumah Daruji. Pekarangan itu hanya ditanami ketela pohon.

Setelah mandi, Daruji pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan. Dalam pada itu, lelaki berambut putih membawa linggis kecil serta parang. Lantas pergi ke desa-desa sebelah untuk mencari tanaman-tanaman yang dipikirkan. Ada yang dicukil di bebatuan, ada yang dicabut di tepi sungai, ada juga yang minta pada pemilik tanaman.
Menjelang dhuhur orang berambut putih sudah sampai di rumah Daruji dengan membawa bibit-bibit berbagai jenis tanaman. Rupanya Daruji sudah tiba dulu di rumah dan menunggu tamunya. Daruji merasa heran setelah melihat orang berambut putih langsung pergi ke pekarangan rumah. Ditanamlah satu demi satu bibit tanaman tersebut. Daruji membantu menanam walau tidak mengerti manfaatnya. Ada yang ditanam di pinggir pagar samping rumah, ada pula yang ditanam di pinggir pagar depan rumah. Selebihnya ditanam di pekarangan belakang.

Setelah semuanya ditanam, orang berambut putih membersihkan diri, mandi di pakiwan belakang. Kemudian Daruji dan tamunya bercakap-cakap di ruang tamu.

Kembali orang berambut putih menerangkan kepada Daruji tentang manfaat serta khasiat tumbuh-tumbuhan. Diantaranya tumbuh-tumbuhan yang baru saja ditanam. Seperti khasiat daun Sawo Manila untuk sakit disentri, daun Saga untuk sariawan, daun Pacar Cina untuk menghilangkan bau keringat, daun Lidah Buaya untuk penyubur rambut, daun Semanggi untuk sariawan, akar Alang-Alang untuk melancarkan air seni, Kangkung untuk tambah darah, daun dan bunga Melati untuk menurunkan panas, getah Jarak untuk luka baru, buah Sawo Kecik untuk diare, daun Kantil untuk reumatik, buah Pace untuk penyegar tubuh, daun Simbukan untuk perut kembung dan khasiat tanaman lainnya. Daruji bertambah kekagumannya tentang pengetahuan tamunya itu. Semakin banyak tamunya bicara, semakin banyak pula pengetahuan yang didapatnya.

Tiga hari orang berambut putih menjadi tamu Daruji. Saat pagi-pagi benar, orang berambut putih pamit pulang. Keduanya berpelukan. Mata Daruji berkaca-kaca, Daruji menyelipkan beberapa lembar uang di saku baju tamunya. Lantas Daruji mengantar tamunya sampai di regol gapura desa. Sekali lagi keduanya berpelukan. Matahari sudah kelihatan cahayanya, orang berambut putih menyeberang jalan, lalu berjalan kearah timur.


Beberapa bulan kemudian, rumah Daruji sudah seperti hutan kecil. Depan, samping dan belakang rumah tumbuh subur berbagai tanaman berkhasiat. Daruji semakin memperdalam pengetahuannya tentang khasiat tumbuh-tumbuhan. Para tetangga banyak yang minta tolong kepada Daruji untuk memberikan ramuan tanaman obat, agar sakit anaknya, mertuanya, istrinya cepat sembuh. Dari yang sakit panas, perut kembung, batuk, luka baru dan keluhan-keluhan lainnya, Daruji selalu menanganinya dengan sabar.

Waktu berjalan terus. Daruji sudah dikenal sebagai ahli tanaman obat keluarga (Toga).

Rumah Daruji tidak pernah sepi tamu. Dari ibu-ibu PKK, Dharma Wanita, guru-guru TK, Lansia sampai tamu yang ingin meminang Daruji untuk dijadikan mantu.

Pengetahuan Daruji tentang khasiat tanaman berkembang dengan cepat. Kini Daruji sering menjadi nara sumber di berbagai media massa. Undangan sebagai pembicara di radio serta tv juga padat.


Siang hari, Daruji duduk sendiri di warung Yu Girah. Pikirannya melayang ke orang berambut putih.

“Masih belum ketemu dengan bapak berambut putih itu,” tanya Yu Girah.

“Belum Yu. Tanya ke beberapa tempat sekitar Alun-Alun juga tidak ada yang mengerti. Ada yang kenal, tetapi tidak tahu juga namanya,” kata Daruji.

“Kau juga tidak tahu namanya, rumahnya,” sela Yu Girah.

“Lha itu yang heran. Kenal tapi tidak pernah tanya namanya, rumahnya. La wong orang-orang memanggilnya dengan sebutan bapak berambut putih, bapak berambut putih,” kata Daruji lagi, Yu Girah mengangguk.

Udara terasa dingin siang itu. Mendung tebal menggantung di langit. Angin mulai bertiup dari utara. Yu Girah dibantu Daruji mengusung kayu-kayu bakar yang dijemur, dibawa masuk ke dalam warung.

Mendung hitam semakin merata, Yu Girah menutup pintu warung. Hanya jendela warung yang masih terbuka. Daruji kembali duduk di bangku warung. Hujan sudah turun. Daruji masih memikirkan orang berambut putih. Ucapannya, senyumnya dan kesabaranya. Kesemuanya masih lekat di hati Daruji. Pada pertemuan terakhir dengan orang berambut putih, Daruji mengantarnya sampai di regol gapura desa. Orang berambut putih berjalan ke arah timur. Dengan tidak menoleh, terus berjalan sampai tak tampak punggungnya.

Angin basah menerpa wajah Daruji lewat jendela warung. Daruji tersentak dari lamunan. Lalu bergumam sendiri, orang berambut putih itu “Pergi Bersama Angin.”

S e l e s a i

Penulis adalah guru di SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.