Parade Teater Jawa Timur (27-28 September 2019) di Gedung Cak Durasim, Surabaya, diikuti oleh Sanggar Pengecer Jasa Ide Kreatif, Lumajang dengan lakon Buto, Sanggar Extra, Gresik dengan lakon Grafito, Sanggar Tobong, Surabaya dengan lakon Kerebritis, Sanggar HMPT, Surabaya dengan lakon Bila Malam Bertambah Malam, Sanggar Lalonget, Sumenep dengan lakon Retorika Kerinduan, Sanggar Abi ML dan Sanggar Dayu Prisma Project, Banyuwangi dengan lakon Xati-Xuicide.

Grafito

Grafito, karya Akhudiat, sutradara Irfan Akbar yang dimainkan oleh siswa-siswa SMA Muhammadiyah 1, Gresik, mengangkat sisi problematik perbedaan keyakinan agama.

Alkisah, seorang lelaki muda bernama Limbo memadu asmara dengan wanita cantik bernama Ayesha. Limbo beragama Katolik dan Ayesha beragama Islam. Maka terjadi pencegahan dari Pastur dan Kyai untuk tidak terlaksananya perkawinan ini. Dan segala upaya kedua anak muda yang diliputi asmara ini mencari jalan untuk bisanya keduanya bersatu dalam pelaminan.

Maka keduanya meminta bantuan kepada seorang pawang. Konon pawang tersebut memohon kepada dewa-dewi untuk mencarikan jalan keluar. Singkat cerita terjadilah perkawinan Limbo dan Ayesha. Perkawinan tersebut atas restu dewa-dewi.

Buto

Teater Pengecer Jasa Ide Kreatif dari Lumajang mengangkat lakon Buto dengan sutradara Ferry HW.

Di desa Karang Kadempel, Lurah Semar sebagai lurah sedang menerima beberapa tamu yang wujud buto (raksasa). Tamu-tamu tersebut meminta kepada Lurah Semar untuk dibuatkan “sertifikat” sebagai manusia, sebab para buto ini mengaku sudah tidak kejam, serakah sebagaimana watak buto. Dan dibuatkanlah “sertifikat” tersebut. Namun perjalanan waktu buto-buto tersebut masih bersifat buto. Maka marahlah Lurah Semar. Lantas Lurah Semar memerintahkan anak-anaknya, Gareng, Petruk dan Bagong untuk membinasakan buto-buto yang membuat kerusakan dunia ini.

-Poedianto,S.Pd,MM / Majalah Jendela-