Para seniman dari Jakarta, Solo, Indramayu, Purworejo, Lumajang, Jombang, Blitar, Malang, Ponorogo, Surabaya, Batu serta seniman-seniman daerah lain lagi, menghadiri dan memeriahkan gebyar seni Obah Nggedruk Bhumi (pemberian tanda negeri). Tari tradisi, kontemporel dan teater silih berganti dipentaskan.

SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya menampilkan tari kontemporel religi. Sebuah tari kreatif oleh Aris Setiawan, M. Pd (guru seni budaya) dengan iringan syair-syair spiritual yang bernuansa Islami oleh Drs. Mohamad Gufron (guru agama Islam).

Kesemuanya ini dilakukan para seniman untuk sebuah negeri yang dicintai, agar dijauhkan dari ribet dan bebendu (malapetaka).

Winarto Ekran, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kota Batu mengutarakan bahwa misi diadakannya acara ini agar negeri kita jauh dari malapetaka.

“Yang urgen adalah uri-uri budaya bangsa. Pelestarian budaya akan membentuk rasa cinta kepada tanah air. Mencintai tanah air akan senantiasa berdoa serta berupaya memajukan kehidupan bangsa agar sejahtera,” papar Winarto Ekran kepada Majalah Jendela.

Utari Dian Palupi, guru sanggar tari Nara-Nari, Kota Malang menambahkan, bahwa acara Obah Nggedruk Bhumi ini semata agar negeri ini bisa aman dan damai. Guru SMP Negeri 25, Kota Malang yang mahir dalam tari genre Jawa Timur, genre Jawa Tengah dan genre Bali ini pernah menari Tari Sesaji dalam hari ulang tahun Malang Dance di candi Songgoriti satu tahun lalu.

“Generasi muda supaya belajar serta memahami seni budaya bangsa sendiri,” timpal Tri Broto sang maestro tari tradisi Jawa Timur. Sehubungan dengan ini, Tri Broto mementaskan fragmen Besutan.

Drs. Mohamad Gufron, seniman qori’ sekaligus guru agama Islam SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya, mengatakan pentingnya apresiasi seni natural,” ujar Mohamad Gufron.

“Kreasi seni tidak harus di panggung yang gemebyar dengan alat-alat modern. Namun apresiasi seni bisa ditranformasikan di alam terbuka. Alam makrokosmos menyatu dengan alam mikrokosmos. Energi manusia menyatu dengan lingkungan semesta,” tambah Mohamad Gufron dan Utari Dian Palupi.

Bela, Devi, Binti, Chendra dan teman-teman, semuanya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membantu dengan tak mengenal lelah agar acara tersebut sukses.

“Saya menyukai sastra dan seni tari,” aku Devi mahasiswi fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia ini kepada Majalah Jendela.

Sementara acara kali ini ditempatkan di Nggopit, dusun Mojorejo, desa Pendem, kecamatan Junrejo, Kota Batu (3, 4, 5 Januari 2020).

Udara segar menyelimuti panggung dusun Mojorejo. Suara gemericik air pancuran yang jatuh di hulu sungai Brantas dan sesekali terdengar suara kokok ayam liar (ayam alas) di rerimbunan hutan.

-Majalah Jendela-