Suara tak tik tok berderap mengisi sunyinya malam. Asbak sudah penuh dengn puntung rokok. Namun masih saja tampak asap putih mengepul di beranda muka itu. Lembar-demi lembar kertas sudah berganti. Suara mesin ketik itu belum juga berhenti. Lelaki berbadan kurus itu menarik nafas dalam-dalam. Keningnya berkerut, tanda menguras isi tempurung kepala untuk dituangkan dalam artikel yang akan disetorkan ke radaksi esok pagi.

Rokok yang tinggal sebatang hanya sisa dua atau tiga kali hisapan. Dibacanya ulang lembar demi lembar uraian artikel tersebut. Lalu dilipat dimasukkan dalam amplop coklat. Mesin ketik berhenti berbunyi. Malam semakin malam, udara semakin dingin.


Pagi itu, lelaki kurus masuk ke ruang redaksi dengan menenteng tas berwarna hitam. Di pintu ruangan disambut gadis berkulit kuning bermuka bulat dan bermata sipit.

“Mas Darman sudah aku tunggu sejak tadi. Mana artikelnya ? Coba kukoreksi,” kata Lily Hwa, sekretaris redaksi. Lelaki kurus membuka tas, lantas memberikan artikel kepada Lily Hwa. Tulisan berbentuk artikel dibaca dengan sungguh-sungguh oleh Lily Hwa. Gadis bemuka bulat itu tersenyum tanda puas dengan artikel karya Darman, kemudian Lily Hwa membuka laci meja kerjanya, mengambil beberapa lembar uang dan dimasukkan ke dalam amplop putih, lalu diberikan kepada Darman untuk honor tulisan. “Terimakasih Lily,” desis Darman singkat.


Di belakang kantor redaksi “majalah mingguan” yang terbit di kota kecil itu berdiri sebuah warung. Setiap hari warung itu penuh dengan wartawan dan karyawan cetak. Mereka memperbincangkan isue-isue yang lagi ramai di masyarakat sambil seruput kopi hangat. Isue pemilu, politik, kasus hukum, korupsi, sosial, pemerintahan sampai pada cerita-cerita artis.

Darman masuk dalam warung. Memesan kopi hitam dan mengambil satu bungkus rokok. Tambah ramailah suasana dalam warung itu. Sendau gurau, tertawa, saling sindir sesama teman bahkan cerita-cerita anekdotpun diutarakan.


Edisi minggu ke empat terbit. Reportase artikel Darman dimuat di halaman pertama. Darman mengangguk-angguk setelah membaca majalah edisi baru itu di teras kantor redaksi. Lily Hwa lewat dengan mengangkat jari jempol kepada Darman. Lelaki kurus itupun tersenyum sembari mengangguk. Lily Hwa masuk ke dalam kantor, tak lama kemudian, keluar lagi menghampiri Darman dan duduk di sebelah Darman dengan membawa bungkusan makanan kecil.

“Mas Darman, rencana edisi minggu depan majalah kita, aku dan beberapa asisten redaksi akan melakukan lawatan liputan ke dampak korban bencana alam di Jawa Tengah. Mas Darman dan tiga wartawan lainnya akan ditugaskan meliput. Pak Zainal, selaku pimpinan redaksi menugaskan aku untuk memimpin lawatan liputan tersebut,” terang Lily Hwa.

Darman hanya mengangguk-angguk. Lily Hwa selaku sekretaris redaksi bertanggung jawab akan berita-berita yang layak dimuat setelah mendapat persetujuan pimpinan redaksi. Darman sebagai wartawan hanya patuh pada tugas-tugas yang diberikan pimpinan. Hari-hari berikutnya tugas-tugas jurnalistik Darman semakin berat dan padat. Sementara omplah majalah dan iklan semakin meningkat. Berita-beritanya tajam, rasional, obyektif dan netral. Maka semakin lama majalah tersebut semakin banyak dibaca orang.


Lima tahun kemudian, majalah mingguan tersebut menjadi majalah nasional ternama. Berita-beritanya menjadi rujukan informasi para pejabat, politisi, praktisi hukum dan lembaga-lembaga pendidikan. Regenerasi pimpinan juga berjalan sesuai dengan kemampuan. Lily Hwa menjadi pimpinan perusahaan. Darman menjadi pimpinan redaksi.

-Majalah Jendela-