Hari masih pagi, perempuan tua itu mengayuh sepedanya. Di tempat boncengan sepedanya, terikat seonggok daun pisang tertata. Menelusuri jalan desa, melewati bulak-bulak kecil. Sesekali berhenti untuk meneguk air putih dalam botol plastik yang dibawa dari tumahnya. Sudah dua desa dilaluinya. Dan ditikungan pojok sawah, sudah tampak pasar krempyeng (pasar desa). Pagi itu masih sepi pengunjung. Mbok Gemi menyandarkan sepedanya pada pohon trembesi, menurunkan onggokan daun pisang dari sepedanya. Ikatan besar daun pisang dibuka, dipilah-pilah menjadi gulungan-gulungan kecil, diikat menjadi ikatan-ikatan kecil. Kemudian diecerkan ke pedagang-pedagang yang membutuhkannya. Ada pedagang nasi pecel, pedagang gorengan, pedagang tape dan pedagang-pedagang lainnya yang membutuhkan daun pisang sebagai pembungkus.

“Aku mengambil tiga ikat, ini uangnya mbok,” suara pedagang nasi pecel sambil menyodorkan beberapa lembar uang kepada Mbok Gemi.

“Matursuwun,” sahut Mbok Gemi.

Pasar krempyeng adalah pasar kecil yang ada di tingkat pedesaan. Lalu-lintas perdagangan di pasar krempyeng hanya sebatas kebutuhan sehari-hari warga se-desa tersebut. Kegiatan pasar krempyeng dimulai saat matahari terbit, dan diakhiri sebelum waktu dhuhur. Sangat singkat waktunya, tidak seperti pasar-pasar tingkat kecamatan atau tingkat kawedanan. Karenanya managemen pembukuannya sangat mudah, transparan. Lain halnya dengan super market atau mall, membutuhkan karyawan bagian kasir minimal mempunyai ijasah SMK jurusan akuntansi atau managemen. Akan tetapi tidak setiap desa mempunyai pasar krempyeng. Makanya, banyak pedagang datang dari desa-desa lain. Kapan mulai ada pasar krempyeng di desa ini ? Tak ada yang bisa menjawab. Mbok Gemipun hanya bisa menjawab, “mulai nenek saya masih kecil, sudah ada pasar krempyeng di desa sini.”


Sore, hari kamis kliwon, Mbok Gemi sudah dandan rapi. Kerudungnya berwarna hitam, baju putih dengan motiv hiasan bunga kecil-kecil berwarna kuning, merah, hijau, dan sandalnya dari kulit, jarik kawung berwarna ungu. Berangkat ke makam suaminya dengan membawa sebungkus kembang telon. Sore itu makam yang terletak di seberang sungai kecil, sudah banyak orang yang ziarah ke sanak famili yang sudah tiada.

Mbok Gemi bersimpuh di samping makam suaminya. Kepalanya menunduk dalam-dalam, mulutnya komat-kamit mendoakan suaminya agar diampuni dosa-dosanya. Ditaburkannya kembang telon tersebut di atas makam suaminya. Mbok Gemi berdiri dan mengucapkan salam ke jasad suaminya. Di pagar makam, Mbok Gemi mengeluarkan beberapa lembar uang untuk dimasukkan ke kotak amal yang menempel di tiang pagar. Dalam perjalanan pulang, Mbok Gemi bersimpangan dengan teman bermain waktu kecil. Rupanya temannya itu juga akan pergi ke makam. Berbincang sejenak, kemudian Mbok Gemi melanjutkan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Mbok Gemi kedatangan tamu, seorang gadis dengan membawa tas berisi pakaian. Setelah dipersilakan masuk, tamu tersebut mengutarakan maksudnya untuk menginap beberapa hari di rumah Mbok Gemi, karena ingin mencari keluarganya yang sudah sangat lama tidak berjumpa. Saking lamanya tidak bertemu keluarganya, sehingga lupa dimana tempat tinggalnya. “Atas saran beberapa warga desa, aku disuruh menemui mbok Gemi, karena mbok Gemi adalah warga yang paling sepuh di desa sini. Semoga mbok Gemi bisa memberi petunjuk dimana keluargaku itu berada,” kata gadis itu dengan nada iba. Mbok Gemi memandangi gadis itu dengan penuh selidik. Dilihatlah gadis itu dari ujung rambut ke ujung kaki. Gadis itu menunduk, Mbok Gemi mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda percaya kepada gadis itu. “Siapa namamu nduk dan dari mana kau ini,” tanya Mbok Gemi.

“Juminten mbok, aku dari kabupaten di ujung timur pulau ini. Aku sejak kecil dibesarkan paman dan bibiku. Seingatku, bapak dan ibu tinggal di desa belakang kantor kawedanan. Tetapi kemaren aku telusuri di sekitar kawedanan tidak ada yang tahu. Kemudian ada yang memberi petunjuk untuk ke desa sini. Sebab di desa sini warganya sudah banyak yang pendatang. Dan ada seorang ibu pemilik warung pojok jalan memberi saran agar aku ke mbok Gemi,” gadis itu berhenti sejenak, dengan dahi berkerut gadis itu melanjutkan penjelasannya kepada Mbok Gemi. “Mbok, paman dan bibiku sudah tiada. Rumahnya diminta oleh ketiga anaknya. Aku hanya diberi uang yang tidak seberapa untuk meninggalkan rumah itu. Kemudian aku punya pikiran untuk mencari orang tuaku. Andai sudah meninggal, dimana kuburannya. Kalau masih hidup, dimana keberadaannya,” suara melas gadis itu.

‘Kalau begitu, kau mandi-mandi dulu. Dan istirahat, besuk kita cari orang tuamu,” pinta Mbok Gemi.

“Terimakasih mbok,” suara pelan gadis, lantas membuka tasnya dan mengambil pakaian dan dibawa kebelakang untuk mandi.


Sudah tiga hari Mbok Gemi dan gadis mencari keberadaan orang tua gadis. Namun belum ada tanda-tanda menyenangkan hati. Malam hari, Mbok Gemi dan gadis sudah berada di rumah. “Aku berterimakasih banyak mbok. Aku sudah merepotkan mbok Gemi. Malam ini aku nyuwun pamit sekalian. Besuk pagi-pagi aku akan ke kota untuk mencari kerja. Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya mbok,” suara gadis semakin pelan, dan tiba-tiba gadis berjongkok dihadapan Mbok Gemi. Telapak tangan Mbok Gemi diciuminya. Dan kedua kelopak matanya berkaca-kaca, kemudian pecahlah tangis gadis itu. Air mata membanjiri kedua pipinya. Mbok Gemi juga tak kuasa menahan perasaannya, matanya juga basah. Kedua perempuan yang beda usia itu menangis sesenggukan. Udara dingin masuk ke rumah. Petanda malam semakin malam. Suara cengkerik dan belalang bersahutan mengisi sepinya malam.


Sepuluh tahun kemudian. Mobil merk ternama berwarna hitam berhenti di halaman rumah yang sudah tak terawat. Wanita cantik turun dari mobil. Kemudian berjalan memasuki halaman rumah. Wanita cantik itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepi rumah itu. Tak lama kemudian seorang lelaki mendekati, dan katanya, “mbok Gemi sudah tiada. Sudah empat tahun ini.”

Mendadak pusing kepala wanita cantik itu. Dan berjalan mendekati mobil, membuka pintunya, mengambil obat, meminumnya dengan air putih dalam botol. Wanita cantik itu duduk di belakang kemudi dengan membiarkan pintu masih terbuka. Dan gumamnya, “maafkan Juminten mbok.”

-Tamat-

Senin Kliwon, Surabaya, 20 Mei 2019.

-Majalah Jendela-