Lomba kompetensi siswa (LKS) SMK sudah berlangsung tiga hari (dimulai 11 Januari 2022). Berbagai bidang dilombakan. Teknologi, pemasaran, culinary, tourist industry, hotel reseption dan yang lainnya lagi.

Persiapan LKS, pihak sekolah berupaya semaksimal mungkin agar anak didiknya juara dalam lomba. Guru pembimbingpun dengan sungguh-sungguh menggembleng siswa peserta lomba. Kesemuanya ini tidak lain hanya untuk kemajuan meningkatkan skill siswa. Oleh karenanya dengan mengikuti lomba, sekolah akan mengetahui kekurangan dan kelebihan kemampuan siswa. Dalam LKS bisa tempa siswa dan evaluasi peluang.

“Setelah mengikuti LKS, saya banyak mendapat pengalaman. Terutama saya bisa tahu kekurangan dan kelebihan dibanding peserta lomba yang lain,” aku Shallomitha Manna, peserta lomba Tourist Industry dari SMK Satya Widya Surabaya.

Sementara itu Dodi Kusuma Utama, S. Pd, S. St. Par, guru pendamping dan Nur Lailiya, kelas 12 UPW, keduanya utusan dari SMK Airlangga Sidoarjo mengatakan penyelenggaraan LKS ini bagus, karena bisa meningkatkan kompetensi siswa. Sudah tentu sesuai dengan standar dunia usaha dan industri.

Di tempat terpisah, Nafis Kurtubi, S. Pd, M. Pd. I, guru SMA Muhammadiyah 7 Surabaya mengatakan bahwa pandemi covid 19 bukanlah suatu hambatan untuk LKS. Ini adalah agenda rutin tahunan. LKS bisa menjadi wahana informasi serta wahana interatif guru serta siswa.

“Diharapkan bisa menjadi solusi dan mengevaluasi peluang,” katanya.

Dengan nada yang sama Yulius Puguh Adi Widodo, S. Sos, M. Si, dosen Ubhara Surabaya, mengutarakan bahwa adanya LKS kami apresiasi setinggi-tingginya. Sebab bisa mengasah kemampuan siswa. Yang utama adalah siswa seperti terjun langsung ke dunia pekerjaan yang profesional.

“Ikut LKS, siswa merasakan terjun langsung ke dunia pekerjaan. Dengan demikian akan menjadi profesional di bidangnya masing-masing,” ujarnya dengan senyum lebar.

Maruf, S. Ag, M. Pd, Waka Kurikulum SMK Negeri 10 Surabaya mengatakan LKS sebagai sarana motivasi dan juga salah satu tolok ukur kemampuan siswa.

“Karena sekarang sudah tidak ada ujian nasional, LKS ini menjadi salah satu tolok ukur kemampuan siswa,” katanya.

Dari orientasi penulis, besar harapan para guru pendamping agar anak didiknya menjadi unggul, terampil, beriman. Burhaniah Hakim, S. Pd, Ketua Jurusan Tata Boga dan Juni Weningdyah, M. Pd selaku penanggung jawab (Penjab) lomba Culinary di SMK Negeri 6 Surabaya agar anak didiknya menjadi juara. Sebab juara 1 tingkat provinsi akan mendapat bia siswa dan tanpa tes bila masuk ke perguruan tinggi negeri.

“Sudah sepuluh siswa kami yang masuk tanpa tes dan mendapat bia siswa di Unesa Surabaya,” aku keduanya bergantian.

“Kerja keras kami para guru untuk agar siswa kami meraih juara. Latihan terus menerus, menggembleng skill, memotivasi dan membangkitkan minat siswa,” tambah Burhaniah Hakim.

“Yang jelas peserrta lomba memetik pengalaman,” tambah Galuh Kurniatri, S. Pd, guru pendamping lomba SMK Negeri 4 Bojonegoro.

Lomba Culinary-Tata Boga di SMK Negeri 6 Sueabaya.
Suka cita pembagian piala.

Poedianto. ~Majala Jendela~