Pemuda semampai itu sesekali bangkit dari duduknya, berjalan kearah pintu stasiun, matanya memandang sekeliling kepada orang-orang yang baru masuk ke dalam stasiun. Kemudian kembali lagi duduk di bangku panjang, bangku penumpang untuk menunggu kereta api tiba. “Sudah tiga kereta api tiba di stasiun, tetapi Lastri belum tampak batang hidungnya. Atau Lastri lupa kalau hari ini janjian bertemu di stasiun,” pemuda itu bergumam sendiri, sembari melihat arloji di tangan, “Ah, sudah pukul sebelas,” gumamnya lagi.

Siang itu sudah terasa panas. Penumpang banyak yang kipas-kipas karena gerah. Ada yang kipas-kipas dengan lipatan koran, dengan sobekan kardus, dengan topi, tetapi tak sedikit yang memakai dengan kipas sungguhan. Kipas yang terbuat dari bahan bambu, dan dikelir dengan warna-warni. Biru, kuning, merah. Kipas yang demikian banyak dijual di depan stasiun oleh anak-anak, dengan cara menjajakan kepada para penumpang.

Dirogohnya bungkus rokok dari saku jaket, diambil sebatang. Namun baru saja akan disulut dengan korek api, Lastri sudah berdiri dibelakang, serta menjawil punggung pemuda itu. “Nunggu lama, mas Prio ya. Maafkan Lastri mas, lha wong ban sepeda motorku kempes. Ah, ndorong lumayan jauh, mencari kios tukang pompa ban,” keluh Lastri.

“O gitu, ayo kita ke warung yang di muka stasiun. Cari minum,” ajak pemuda yang bernama Prio itu sambil memasukkan lagi rokok dan korek api ke saku jaketnya.

Lastri pesan es teh, Prio juga. Prio menawari makan, tetapi Lastri menolak karena masih kenyang. Keduanya duduk berdampingan. Menanyakan keberadaan masing-masing. Keduanya minum es teh. Terasa segar. Lantas setelah membayar minuman kepada penunggu warung, keduanya berboncengan ke tempat wisata yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun.

Tidak seberapa ramai pengunjung tempat wisata siang itu, karena bukan hari libur. Prio menggandeng Lastri sambil berjalan pelan, mengelilingi dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa anak-anak muda seusianya juga berpasang-pasangan. Tampak juga kelompok-kelompok keluarga. Ada pula serombongan siswa-siswa sekolah beserta gurunya. Sesekali Lastri meneguk air putih dalam botol yang dipegangnya. Prio tak ketinggalan dengan rokoknya. Keduanya menikmati keindahan panorama di tempat wisata siang itu. Lastri mengajak ke air terjun. Keduanya duduk di atas batu besar. Keduanya melihat beberapa anak usia sekolah dasar membasahi baju dengan berdiri dibawah air terjun. Saling tarik menarik diantara mereka sambil tertawa. Lastri ikut tertawa bila ada yang lucu. Prio cuma tersenyum. Setelah menikmati air terjun, keduanya berjalan menjauh dari tempat basah. Lastri berpegang lengan Prio dengan erat-erat, karena jalannya menurun dan licin. Keduanya mencari warung untuk makan.

“Kabupaten ini lagi gencar-gencarnya membangun tempat-tempat wisata. Sebab sumbangan pemasukan dari hasil tempat wisata cukup besar buat pemerintahan daerah sini. Karena kabupaten ini bukan kabupaten industri, bukan pula kabupaten niaga. Maka hanya usaha wisata yang harus diutamakan,” kata Prio setelah menyelesaikan makannya. Lastri hanya mengangguk sembari mengunyah nasi rawon yang tinggal beberapa sendok saja. Angin semilir mengusap wajah keduanya. Suara derik garengpung bersahut-sahutan dari dahan pohon cemara. Prio menghembuskan asap rokok dengan pelan ke udara dan asap itu membentuk lingkaran-lingkaran putih, lalu terbawa angin ke atas, hilang.


Selang satu hari, terdengar kabar tempat wisata itu longsor. Banyak korban meninggal dunia. Banyak pula yang masih dirawat di rumah sakit. Ramai orang memperbincangkan longsor tersebut. Ada yang ngomong karena banyak pohon-pohon besar yang dipotong, lahannya dibangun buat kafe dan penginapan. Ada pula yang ngomong karena kurang sesaji. Dan banyak lagi omongan-omongan orang. Ada yang rasional maupun yang irasional.

Prio bergegas ke rumah Lastri. Sepeda motor di gas dengan cepatnya.Tetapi sesampainya di rumah Lastri, seluruh keluarga di rumah itu berkumpul di ruang tamu. Membicarakan bencana longsor. Prio agak ragu-ragu menuntun sepeda motor masuk ke halaman. Sesekali berhenti, dan memandang ke pintu rumah, berharap Lastri nongol. E, ternyata harapan Prio benar. Lastri keluar dari ruang tamu, turun ke halaman menyongsong Prio. Lastri mengajak Prio duduk di amben bambu di bawah pohon keres. Lastri bercerita musibah di tempat wisata. Bahkan dengan panjang lebar menceritakan bahwa warga tetangga desanya ikut juga menjadi korban. Prio hanya mengangguk-angguk. Kemudian keduanya merasa bersyukur, karena bencana itu datang selang satu hari setelah keduanya berkunjung ke tempat wisata tersebut.

“Lastri, semalam aku tidak bisa tidur. Aku membayangkan andai bencana itu terjadi kala kita berkunjung,” kata Prio serius. Lastri menutup mulut Prio dengan telunjuk jarinya, agar Prio tidak berkata berandai-andai. Prio terdiam, Lastri tersenyum. “Bapak, ibu, pak lik, bu lik, semuanya membicarakan tentang longsor itu,” suara Lastri.

“Kau juga cerita kalau kemarin kita kesana,”” sela Prio.

Lastri tertawa panjang sambil melihat wajah Prio yang serius. Kemudian Lastri membisikkan suaranya di telinga Prio. “Ya, aku ceritakan semuanya kepada bapak ibu.” Wajah Prio memerah, tawa Lastri semakin keras. Kemudian Lastri meninggalkan Prio, lalu Lastri berlari kecil masuk rumah lewat pintu samping. Tak lama kemudian Lastri keluar dengan membawa dua gelas teh di atas nampan. Lantas keduanya minum bersama.

“Aku tak pernah menutupi apa saja kepada bapak ibu. Termasuk dengan hubungan kita. Bapak ibu tahu semuanya. Mas Prio berasal dari mana, bekerja dimana. Semuanya aku ceritakan,” suara Lastri pelan. Prio melontarkan pandangannya ke pekarangan depan. Lastri memandang Prio dengan dahi berkerut. Kemudian angan-angan kedua anak muda itu menerobos ke awang-awang. Risau dengan masa depannya.

Keduanya sering mendengar saran-saran dari pembicara di tv tentang problematika perkawinan muda. Bahkan Prio juga pernah membaca buku-buku yang isinya tentang menuju keluarga bahagia. Kegelisaan timbul, karena bila membangun keluarga bahagia, seyogyanya sudah memiliki sandang, pangan dan papan. Apalagi apabila dibumbui dengan “jangan kawin muda,” sebab masih kurang bisa berpikir dewasa. Prio menggelengkan kepala, sebab ia baru saja bekerja di pabrik gula. Lastri juga baru lulus SMK. Sementara budaya di desa apabila pria atau wanita sudah cukup umur selayaknya dinikahkan. Apalagi kalau sudah runtang-runtung berduaan. Orang tua merasa malu sama sanak famili, tetangga, kalau anaknya tidak segera didudukkan di pelaminan.

Suara azan dhuhur dari pengeras suara masjid desa sebelah terdengar. Lastri berdiri, tangannya memegang pergelangan tangan Prio, lalu mengajak Prio masuk rumah. Angin berhembus menggugurkan daun-daun pohon keres dan berserakan menebar di halaman serta di atas amben bambu. Siang semakin panas. Prio dan Lastri bertandang ke pakiwan belakang untuk mengambil air wudhu.


Timur pabrik gula ada sebuah desa kecil. Warga desa banyak yang bekerja sebagai buruh di pabrik gula. Baik buruh dalam proses produksi maupun buruh tebang tebu. Ada yang dibayar bulanan, ada pula yang dibayar mingguan. Ayah Prio adalah staf kantor pabrik gula. Dan sudah dua tahun meninggal dunia karena sakit. Dari jasa ayahnya itulah, Prio bisa bekerja di pabrik gula sebagai karyawan kantor, walaupun ijasahnya hanya SMA.

Sore hari, Prio baru saja pulang kerja. Mandi, makan, berkaos oblong serta memakai sarung. Kemudian duduk di atas tikar di ruang depan sambil nonton tv. Ibunya bersandar dinding tembok dengan kedua kakinya selonjor. Sementara dua adiknya pergi bermain.

“Prio,” suara ibunya pelan sembari memijit-mijit kedua kakinya sendiri. Lalu suara ibunya lagi, “ibu tadi pagi di pasar ketemu ibunya Lastri. Ibunya Lastri menceritakan rasan-rasan para tetangganya tentang hubunganmu bersama Lastri,” ibu Prio berhenti sejenak. Matanya melihat Prio yang ─║agi nonton tv. Kemudian lanjutnya, “sepulang dari pasar, ibu mampir ke rumah pak puh. Dan ibu ceritakan semuanya kepada pak puh. Pak puhmu mengharap keluarga kita segera bertandang ke rumah Lastri untuk menjelaskan kepada bapak ibunya Lastri, bahwa hubunganmu dengan Lastri adalah sungguh-sungguh. Bukan dolanan.”

“Aku juga sudah berpikir seperti itu bu,” kata Prio.

“Baguslah, kalau pikiranmu sama dengan ibu,” timpal ibu Prio cepat, kemudian katanya lagi, “Bapakmu orang yang disegani di pabrik maupun di desa sini. Pendapatnya senantiasa digugu lan ditiru. Karena itu, ibumu ini mempunyai angan-angan agar kau bisa sebagai pengganti bapakmu. Baik di pabrik maupun di desa sini. Ketahuilah, ibumu ini, setiap malam berdoa agar anak-anakku semua dijauhi dari jalan yang keliru. Semoga semuanya mendapat ridho Gusti Allah,” kata perempuan setengah baya itu dengan sungguh-sungguh. Mendengar permintaan ibunya seperti itu, Prio beringsut mendekati ibunya. Diciumlah ibunya. Dipijati ibunya. Kemudian kata ibunya lagi, “ibumu ini tidak kolot, tidak kuno, tetapi itu memang tatanan sejak run-temurun orang Jawa. Kalau pria dan wanita yang sudah menjalin hubungan kasih asmara, apalagi acapkali kelihatan ngalor-ngidul berdua, sebaiknya secepatnya diresmikan sebagai suami istri.”

“Yang aku menjadi minder itu, aku belum punya apa-apa bu,” sela Prio polos.

“Ibumu kawin dengan bapakmu dulu, juga tidak punya apa-apa. Temanten anyar numpang di rumah pak puhmu,” terang ibu Prio.

“Tetapi bukankah akan menjadi bahan tertawaan kalau kawin tidak punya apa-apa,” sahut Prio dengan nada pelan.

“Persoalannya adalah, banyak orang yang menunggu menjadi mapan dulu baru kawin, sukses dulu baru kawin. Tetapi banyak juga yang berpendapat sebaliknya. Kawin dulu, tidak nunggu mapan. Nah, dalam perkawinan itulah dibarengi usaha untuk meniti sukses,” ibu Prio berhenti sejenak, matanya mengamati reaksi Prio. Dan kemudian katanya lagi, “Ibu memang memegang adat istiadat Jawa dengan ketat. Taat pada adat bukan berarti kolot. Ini semata untuk kebaikanmu.”

“Inggih bu. Putramu ini akan menjaga nama keluarga,” kata Prio pelan.

“Jangankan ibu yang hanya istri karyawan pabrik gula ini, ya mesti patuh terhadap budaya dan adat Jawa. Para priyayi yang sekolahnya tinggi saja masih banyak yang memegang erat adat,” ibu Prio berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “kau tahu kan, Raden Ajeng Kartini dan Raden Ajeng Rukmini, keduanya putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Kedua gadis bangsawan Jepara tersebut adalah cahaya bagi bangsanya. Kedua wanita itu membuka tempat-tempat belajar untuk rakyat. Keduanya pahlawan emansipasi wanita. Kumpulan tulisannya yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang telah membuka cakrawala pandang masyarakat Jawa pada zaman itu. Maka, sejak saat itu timbullah kesadaran untuk belajar bagi kaum pribumi. Raden Ajeng Kartini juga membuka sekolah untuk wanita pribumi, sekaligus sebagai pengajar. Namun demikian, kedua gadis bangsawan Jepara tersebut, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Jawa. Kedua gadis tersebut berpikir modern, tetapi tetap berperilaku budaya tradisi. Dan ibumu ini juga dibesarkan dalam adat dan budaya Jawa. Sopan santun, andap asor, unggah ungguh kepada siapa saja, apalagi kepada orang yang lebih tua. Saya kira setiap orang tua, akan merasa was-was bila melihat berubahnya tata pergaulan anak-anak muda zaman sekarang. Ibu miris melihat tata krama anak-anak muda yang semakin lama semakin menyimpang dari nilai-nilai kepatutan. Semua orang tua khawatir akan hal ini. Termasuk ibunya Lastri,” papar Ibu Prio.

Dalam pada itu juga, adik perempuan Prio yang sudah duduk di bangku SMP datang dengan mengayuh sepeda ontel. Sepeda disandarkan di pagar, lalu masuk rumah diikuti ibunya dari belakang.

“Dari mana nduk, kok baru pulang,” tanya ibu Prio kepada anak perempuannya.

“Rumah teman bu, belajar bersama,” jawab adik Prio singkat.


Waktu perayaan giling tebu. Sepanjang jalan depan pabrik gula dibuka stand-stand bazar. Di sebelah kanan pabrik didirikan panggung wayang kulit. Semua kereta-kereta lori ditarik masuk ke dalam depo kereta, agar area tempat tontonan semakin luas. Tak ketinggalan, warga desa sekitar pabrik ramai-ramai buka warung makanan dan minuman. Para pedagang mainan anak kecil juga sudah memajang barang dagangannya masing-masing. Semua penduduk desa tumplek blek menonton acara tersebut. Bahkan warga dari kabupaten lain juga ikut menyaksikan perayaan giling tebu. Ramai sekali malam itu. Tua muda, pria wanita dan anak-anakpun bersuka-ria.

Di sudut jalan sebelah barat pabrik, ada digelar warung lesehan. Sedia wedang sekoteng, wedang kopi, ketan kelapa, ketan bubuk, ketela rebus, pisang rebus dan makanan lainnya. Beralas kain terpal, Prio dan Lastri duduk berdampingan sangat rapat, dan sedang menikmati wedang sekoteng. Banyak juga anak-anak muda yang memesan minuman hangat ini. Wedang sekoteng merupakan minuman khas daerah tersebut.

Malam semakin malam, pengunjung perayaan giling tebu semakin penuh. Lastri merebahkan kepalanya di bahu Prio. Rambutnya yang hitam panjang terurai lepas. Semerbak bau harum bak bunga tanjung. Keduanya memadu kasih. Jari jemari keduanya terjalin erat. Tampak jari manis tangan kiri sepasang kekasih itu sudah memakai cincin pertunangan.

“Mas,” suara Lastri manja.

“Ya,” jawab Prio.

“Lihat kakek dan nenek yang berjalan itu. Keduanya bergandengan mas.”

“Ya, aku melihatnya.”

“Mas Prio sayang sama Lastri sampai tua kan.”

“Ya.”

“Ibarat apa kasih sayang kita mas.”

“Ibarat bulan dan cahaya. Kalau ada bulan, pasti ada cahaya. Bulan dan cahaya tidak pernah pisah.”

“Kalau Lastri jadi bunga, mas Prio tangkainya kan.”

“Ya.”

“Selalu bersama kan.”

“Ya iya.”

Lastri bergeser dari duduknya, menatap mata Prio, dan katanya lagi, “lha, kalau mas Prio kerja, masak Lastri ikut ke kantor.”

“Ya tetap ikut. Lastri aku lipat kayak kertas dan aku masukkan dompet.” Mendadak Lastri tertawa, kemudian pinggang Prio dicubit berkali-kali. Prio menggeliat kesakitan. “Sudah, sudah, cubitanmu panas,” desis Prio. Lantas Lastri berdiri dari duduknya sembari menarik tangan Prio untuk berdiri juga. Setelah membayar dua mangkuk wedang sekoteng dan beberapa potong makanan, keduanya keluar dari warung lesehan dengan bergandengan tangan, berjalan keliling menelusuri stand bazar yang satu ke stand bazar lainnya.

Angin pelan mengusap wajah-wajah keduanya. Wajah-wajah yang menatap perjalanan hidupnya.

-S e l e s a i-

Rabu Legi, 1 Januari 2020

-Majalah Jendela-