Baru saja kopi dalam gelas itu aku minum, sepeda ontel masuk ke halaman depan dengan buru-buru, dan disandarkan seenaknya, kemudian anak lelaki usia sepuluh tahun berlari kearahku. “Mbak Wiwik menangis,” katanya singkat. Lalu, anak lelaki itu balik lagi ke halaman, menaiki sepeda ontel, buru-buru keluar halaman. Aku agak kaget juga, dan penuh tanda tanya. Kemudian aku stater sepeda motor, pergi ke rumah Wiwik.

Memang tidak terlalu jauh rumah Wiwik, hanya melewati dua jalan kecil desa. Aku sudah sampai di rumah yang halamannya sangat luas. Di kedua sisi halaman tumbuh pohon mangga yang besar dan di pinggir-pinggir pagar, ditanam berbagai jenis bunga. Setelah sepeda motor aku kunci, aku langsung masuk ke beranda dalam. Aku lihat Wiwik tidur telungkup dengan masih terisak-isak. “Mengapa kau menangis Wik,” tanyaku pelan. Wiwik tidak menjawab. Aku elus rambutnya yang panjang, dan aku tanyakan sekali lagi, masih belum ada jawaban. Aku panggil anak lelaki yang duduk di pojok kamar. Aku berikan beberapa lembar uang untuk beli minuman dan makanan kesukaan Wiwik. Aku duduk di pinggir pembaringan. Aku lihat foto keluarga yang dalam bingkai pigora ukir-ukiran. Bapak ibunya, Wiwik dan kedua adiknya. Bapak dan ibunya bekerja di pabrik rokok ternama. Adik perempuannya masih kuliah di kota. Sedangkan Wiwik sudah menyandang sarjana ekonomi. Dan adik lelakinya baru kelas empat sekolah dasar.

“Wik, Wiwik apa sih yang kamu sedihkan. Menangis kok gak habis-habis. Sampai-sampai Satrio menyusulku kerumah. Apa bapak ibu tahu yang kau sedihkan. Ah, mbok ngomong to. Ada masalah apa,” tanyaku kepada Wiwik lagi. Kemudian Wiwik membalikkan tubuhnya, lalu duduk di pembaringan. “Permohonan kerjaku di tolak lagi mas. Sudah dua tahun aku lulus kuliah, tetapi masih menganggur. Sudah puluhan pucuk surat lamaran kerja aku layangkan, tetapi hasilnya nihil,” suara Wiwik menjelaskan dengan terbata-bata. Matanya merah, berkaca-kaca, dan air mata keluar membasahi kedua pipinya. Aku pijat-pijat lehernya, kepala dan aku tekan kedua sisi tengkuknya dengan ibu jari. Kemudian Wiwik menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Rupanya lehernya terasa kaku. Aku pijit-pijit lagi lehernya hingga terasa lemas. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aku elus rambutnya yang panjang, setelah itu, Wiwik aku gandeng ke ruang tamu. Tak seberapa lama adik lelakinya yang bernama Satrio tiba dengan membawa minuman dan makanan. Kami bertiga menikmati makanan di ruang tamu.


Hari minggu, Wiwik dan Satrio, aku ajak ke taman wisata. Satrio bersama anak-anak sesusianya melihat-lihat yang sekiranya menarik perhatiannya. “Satrio, jangan jauh-jauh,” pesan Wiwik kepada adiknya. “Ya mbak.”

Tidak seberapa ramai taman wisata hari ini. Mungkin tanggalnya tanggal tua. Atau warga kabupaten sini sudah bosan. Sebab taman wisata ini tidak ada inovasi-inovasi baru, semua isinya adalah pemandangan-pemandangan yang itu-itu saja. Sehingga banyak warga yang beralih rekreasi ke kabupaten-kabupaten lainnya. Sebab sekarang banyak tempat-tempat wisata yang baru. Seperti goa, air terjun, pantai, candi-candi dan situs-situs sejarah sudah banyak ditemukan, kemudian dipugar, diperbaiki dan ditata untuk tempat wisata. Seyogyanya usaha tempat-tempat wisata senantiasa memperbarui diri, mempercantik diri, agar wisatawan tidak menjadi bosan. Karena banyak pemerintah kabupaten yang mengandalkan tempat wisata sebagai sumber penghasilan untuk pemasukan pendapatan asli daerah. Maka tidak ada jalan lain, harus berani menyulap pemandangan-pemandangan lama menjadi pemandangan baru. Sehingga membuat wisatawan betah berlama-lama menikmati keindahan panorama. Kalau sudah demikian, usaha-usaha yang mengikutinya, akan ramai juga. Seperti restoran, warung, parkir, ponten, persewaan tenda-tenda kecil, penjual mainan anak, penjual buah, penjual oleh-oleh, penjual kerajinan, losmen, motel dan lainnya. Pada gilirannya wisatawan yang sudah menikmati dan terkesan, akan kembali di lain waktu dengan membawa handai-tolan serta teman-temannya.

Aku gandeng Wiwik masuk restoran. Wiwik pesan nasi kare dan es jeruk, aku pesan nasi rawon dan kopi, Satrio pesan nasi campur dan es susu. Kami bertiga duduk dekat jendela.

“Wik, jangan banyak pikiran karena belum kerja. Tidak hanya kau saja yang menganggur. Tetapi aku mengerti, kau anak pertama. Anak pertama yang idealnya sebagai pengganti bapak ibu untuk menghidupi keluarga. Tetapi, lha wong memang belum dapat kerjaan, terus mau apa lagi. Ya, harus sabar. Lihat badanmu tambah kurus. Lha tiap hari menangis. Gadis kalau sering-sering menangis, cantiknya bisa pudar lho,” aku berhenti berkata, karena jari telunjuk Wiwik ditempelkan ke bibirku.
“Tu, pesanan kita sudah datang,” desis Wiwik. Pelayan restoran meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Aku, Wiwik, dan Satrio makan dan minum bersama.


Menjelang sore, aku keluar dari kantor. Dengan masih mengenakan seragam kantor, aku singgah ke rumah Wiwik. Bapak ibunya masih belum pulang dari pabrik. Satrio tidur di kursi tamu. Aku mendengar Wiwik rengeng-rengeng menyanyi lagu “Setangkai Anggrek Bulan” di ruang tengah. Rupanya Wiwik sedang setrika. Wiwik berdiri menyalami aku, setelah mencabut kabel setrika. Kusodorkan surat panggilan kerja dari kantor paklik Darno. Wiwik membaca surat itu, dan meloncat kegirangan. “Duduk dulu mas, aku ke dapur ya, masak air bikin kopi,” suara Wiwik sambil bergegas ke dapur.

Aku duduk di bangku panjang, belakang dapur. Rimbunnya pepohonan halaman belakang membuat dingin udaranya. Aku membuka tas, aku ambil botol minum, aku buka tutupnya dan aku teguk habis. Lalu menyulut rokok. “Lho kok di belakang mas,” tanya Wiwik dengan membawa segelas kopi panas. “Udara segar di belakang Wik.” Lalu, Wiwik duduk disampingku.

“Paklik Darno sekeluarga sehat-sehat kan mas,” tanya Wiwik.

‘Ya sehat semua. Nanti malam kau harus matur bapak ibu, besuk aku antar ke kantornya paklik Darno. Yang utama harus sopan, ramah kepada siapa saja di kantor,” tuturku.

“Mas, aku kok jadi minder to mas. Aku belum pernah kerja sama sekali. Aku takut salah mas,” kata Wiwik dengan menggoyang-goyang bahuku. Aku tertawa pelan melihat muka Wiwik yang serius. “Hem, kok malah ditertawain,” suara manja Wiwik dengan menunduk. Aku tersenyum, lalu kopi aku minum pelan-pelan.


Aku dan Wiwik berangkat pagi-pagi benar ke kantor paklik Darno. Sepeda motor aku titipkan di parkir belakang terminal bus. Lalu naik bus ke luar kota. Penumpang bus tidak banyak. Aku dan Wiwik duduk di tengah. Kondektur bus menarik ongkos, dan kusodorkan beberapa lembar uang. Wiwik masih mengantuk, kepalanya disandarkan ke pundakku. Dan kuraih kepalanya, kutempatkan di pangkuanku. Wiwik tertidur di pangkuanku dengan mendekap jaketnya. Bus melaju ke arah timur. Sesekali berhenti menurunkan serta menaikkan penumpang.

Setelah tiga jam dua puluh menit di perjalanan, bus masuk terminal kota metropolis. Wiwik sudah bangun, dan memasang tudung jaket di kepalanya. Aku angkat tas dan kugandeng Wiwik turun bus.

Sinar matahari belum tinggi, aku dan Wiwik sudah menghadap paklik Darno di ruangannya. Beberapa petunjuk diberikan buat Wiwik. Aku dan Wiwik hanya mengangguk-angguk.

“Besuk Wiwik sudah mengawali kerja. Ingat pesan-pesan paklik,” suara paklik Darno dengan suara berat.

“Injih paklik,” jawab Wiwik pelan.

“Sekarang kau antar Wiwik ke rumah. Bulikmu sudah menunggu,” perintah paklik kepadaku.

“Injih paklik,” kataku pelan.


Sebulan kemudian, Wiwik pulang ke rumah di desa. Hari itu hari libur nasional. Bapak ibu dan adik-adik ikut senang.

Di teras depan Wiwik bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya kepadaku. Aku hanya tersenyum melihat Wiwik senang. Cuma pesanku kepada Wiwik, “Jangan menepuk dada, ya sayang. Hidup harus mengalah. Karena Tuhan menyayangi orang yang mengalah.”

“Injih mas,” sahut Wiwik.

Kami berpandangan sejenak, lantas meledaklah tawa kami berdua.

Selesai

Poedianto
Majalah Jendela