Emha Ainun Najib, budayawan “Bang-Bang Wetan” memberi wawasan kritis kepada jamaah Maiyah di Balai Pemuda Surabaya (Selasa malam 5 Februari 2018). Pencerahan, pemikiran kritis yang disampaikan kepada generasi muda tentang problematika kehidupan, kepemudaan, kemasyarakatan hingga politik tata negara.

Budayawan asal Jombang ini senantiasa menekankan bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah. Menyerah terhadap segala macam bentuk kehidupan. Konkretnya adalah berupaya terus-menerus walau secara finansial tidak menghasilkan harta sedikitpun. “Kalian semua duduk didepan panggung ini hampir enam jam, berangkat juga dengan beli bensin sendiri, namun kalian jalankan dengan sabar. Dengan kesadaran sendiri, tidak ada yang menyuruh, tetapi akan membuahkan kedewasaan berpikir. Tidak pendek berpikir,” papar suami Novia Kolopaking ini dengan didampingi Suko Widodo, dosen Unair.

Sebelum memberi wawasan kepada jamaah Maiyah, Cak Nun, sapaan akrabnya, berdialog dengan beberapa seniman, wartawan tentang berbagai macam permasalahan hidup dan kehidupan bangsa. Religi, filsafat, sosiologi, pemilu, hukum serta pemerintahan.

Ditanya oleh Majalah Jendela tentang pendidikan, Cak Nun mengutarakan bahwa pendidikan kita menempatkan murid sebagai obyek, bukan subyek. “Kurikulum hanya sebagai alat mencetak siswa. Selama sekian tahun siswa belajar di bangku sekolah dicetak menjadi ini, menjadi itu. Padahal setiap siswa mempunyai gawan (pembawaan) sendiri-sendiri. Siswa akan menjadi dirinya sendiri tanpa dicetak. Apabila dicetak dengan waktu yang ditetapkan, tiga tahun, enam tahun, hasilnya akan jauh dari harapan. Oleh karena itu jangan menghardik waktu (Hadis Qudsi). Apabila demikian pasti gagal,” paparnya.

Lebih lanjut Cak Nun mengatakan, seharusnya pendidikan merupakan penelitian tentang siswa. Memang membutuhkan waktu lama. Pendidikan akan gagal kalau dipatok dengan waktu tertentu. “Realitanya siswa kan banyak bertanya. Itu menandakan harus banyak jawaban. Pendidikan kan banyak problem. Maka seharusnya harus banyak solusi. Tetapi mengapa diarahkan pada satu solusi saja, yaitu kurikulum. Kalau hanya dengan satu solusi saja untuk menyelesaikan problematik pendidikan, dipastikan gagal. Di pendidikan banyak problematik, maka harus banyak pula solusi,” katanya serius.

Selesai

Poedianto
Guru SMK Satya Widya Surabaya