Drama Kidung Suci sebuah lakon manusia pada ribuan tahun yang lalu.

Menjelang Perang Besar Bharata Yudha, yaitu peperangan antar anak manusia, peperangan kebenaran melawan keangkaraan. Perang besar yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang dari segala pihak. Banyak ibu yang menjadi janda, banyak gadis yang kehilangan kekasih, semua gugur di medan laga.

Akibat perang inilah yang ditakuti oleh Raden Harjuna, maka rasa ragu, bimbang, was-was meliputi suasana hati Raden Harjuna tatkala memimpin prajurit Negara Amarta menghadapi Negara Hastinapura.

Suasana kebatinan Raden Harjuna ditangkap oleh mata hati Prabu Krisna. “Adinda Harjuna, mengapa wajahmu muram, seperti disaput mendung. Suasana gundah apa yang ada dihatimu dinda,” tanya Krisna dengan pelan.

“Aduh kakanda Krisna, rasanya adinda tak sanggup memimpin perang di medan Kurusetra ini kanda,” jawab Harjuna sedih.

Mendung kala itu di medan Kurusetra. Angin semilir menerpa pelan semua prajurit yang telah siaga menunggu perintah serang. Raden Harjuna duduk lunglai di kereta perangnya. Prabu Krisna duduk juga disebelah Raden Harjuna. “Kakanda Krisna, perang di Kurusetra ini yang aku hadapi adalah kakekku sendiri, yaitu kakek Bisma. Guruku sendiri, yaitu guru Drona. Pamanku sendiri, yaitu paman Salya dari Mandraka dan saudara-saudaraku sendiri, putra-putra paman Destrarata,” suara Raden Harjuna semakin lirih dengan kepala menunduk.

Prabu Krisna mengerutkan keningnya. Dan beringsut berdiri menghadap Raden Harjuna yang masih menundukkan wajah.

“Adinda Harjuna, bukankah kau yang paling gemar membaca kitab-kitab sastra kuno tatkala kau belajar di perguruan Padepokan Sukalima. Bukankah kau juga yang gemar tapa brata dan bukankah kau juga yang suka membahas sejarah bangsa-bangsa terdahulu,” Prabu Krisna berhenti sejenak, dipandangilah tengkuk Raden Harjuna yang masih menunduk. “Hai Harjuna,” suara Prabu Krisna mulai meninggi, dan katanya lagi,” Harjuna, takdirnya kesatria itu adalah menghadapi segala situasi harus dengan wajah tengadah. Tegar, tegas namun fleksibel dalam mengurai masalah. Jangan luluh, lunglai seakan tanpa daya,” urai Prabu Krisna sembari menarik nafas dalam-dalam.

Di medan perang Kurusetra para prajurit dari segala pihak sudah sigap siaga dengan membawa segala piranti perangnya masing-masing. Langit semakin gelap tertutup mendung. Hawa dingin sudah menusuk kulit, tanda akan turun hujan.

“Hai Harjuna, dalam kitab suci kuno tersebutlah ada tiga perang besar yang terjadi di dunia ini. Pertama, perang besar antara Prabu Rama Wijaya dari Negara Pancawati menghadapi Prabu Rahwana dari Negara Alengka Dirja. Prabu Rama Wijaya dibantu rakyat jelata tetapi berhati putih. Yang akhirnya Prabu Rama Wijaya berhasil membawa kembali istri tercinta yang diculik Prabu Rahwana ke Negara Pancawati. Dan peperangan ini juga membawa banyak kurban dari kedua pihak. Dan ada perang besar lagi tentang perebutan tahta di Negara Pringgandani. Perang saudara antara bangsawan Pringgandani antara yang setuju dan yang kontra terhadap naiknya Raden Gatotkaca menjadi raja Pringgandani. Peperangan itu membawa kurban satria-satria unggulan Negara Pringgandani. Diantaranya panglima perang Raden Brajadenta dan Raden Brajamukti. Perang yang ketiga adalah perang antara keturunan Bharata, yaitu Pandawa melawan Kurawa. Perang ini bila ditilik dari lahirnya, dari bentuk raganya seolah-olah merebutkan tahta Hastina,” Prabu Krisna agak menurun suaranya, kemudian Harjuna mulai menengadakan kepalanya menatap Prabu Krisna.

Prabu Krisna memegang pundak Raden Harjuna, dan tuturnya lagi,”Harjuna, ketahuilah adinda, sesungguhnya perang Bharata Yudha di medan Kurusetra ini adalah perang antara kebaikan melawan keangkaraan. Perang suci menyirnakan perilaku kewenang-wenangan Prabu Duryudana beserta bala Kurawanya. Ingat adinda Harjuna, rencana jahat paman Sangkuni kala di padepokan Bale Segologolo, Pandawa masih perjaka kecil dibakar dengan teganya oleh paman Sangkuni beserta Kurawa. Dan ingat pula bahwa Pandawa dibujuk halus untuk bermain judi. Pandawa kalah dan konsekuensinya dihukum diasingkan di hutan rimba selama bertahun-tahun. Dan yang paling nista ialah pelecehan terhadap Drupadi di tempat terbuka oleh Kurawa. Yaitu melucuti busana seorang wanita. Oleh sebab itu adinda Harjuna, perang melawan keangkaraan, ketamakan, kesewenang-wenangan, kerakusan akan kekuasaan ini, jangan melihat musuh-musuhmu yang berasal dari keluarga sendiri. Baik itu kakekmu, pamanmu, sepupu-sepupumu atau saudara-saudara yang lain lagi, itu semua musuhmu,” Prabu Krisna berhenti sejenak, kemudian katanya lagi,”Adinda Harjuna, perang Bharata Yudha ini adalah perang menegakkan kebenaran, kejujuran dan hasilnya untuk kemanfaatan kehidupan rakyat banyak. Hai Harjuna, bila kau berpihak pada kebenaran, maka siapa saja yang menghadang perjuanganmu, itu adalah musuhmu, walaupun itu adalah saudara-saudaramu sendiri,” Prabu Krisna menghentikan tuturnya, kemudian memandang wajah Raden Harjuna yang sudah memerah, lalu bersimpuh seketika di kaki Prabu Krisna sembari hatur sembah, “Duh kakanda Krisna, adinda mohon maaf bila membuat kecewa kakanda Krisna,” suara Harjuna tersendat-sendat, dan kemudian berdiri tegak mengangkat busur panahnya serta memerintahkan para prajurit Amarta untuk maju di medan laga.

Tutur Prabu Krisna kepada Raden Harjuna kala menjelang Bharata Yudha inilah yang dinamakan Kidung Suci Bhagavad Gita (nasehat begawan kepada satria-Krisna kepada Harjuna)

Selesai

Poedianto
Guru SMK Satya Widya Surabaya