Dyah Cahyanti Dwi Putranti adalah istri Dr. Saiful Rahman, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Tetapi lebih popular dengan panggilan ibu Atiek Saiful Rahman. Ibu Atiek merupakan sosok panutan wanita yang mempunyai tekad, semangat yang kuat, penyayang serta panutan dalam keluarga. Kiprahnya sebagai ketua Dharma Wanita – Persatuan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memberi arti penting terhadap peran wanita sebagai pemberdayaan kaum perempuan di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Keberadaan istri-istri ASN tak dapat lagi dipandang sebelah mata, karena sudah membuktikan eksistensinya. Demikian pula mereka yang tergabung dalam naungan Dharma Wanita Persatuan (DWP). “Istri ASN tidak sekedar konco wingking”. Istri bukan lagi teman di belakang, tetapi berdampingan bersama suami. Menemani suami sekaligus membantu tugas tugasnya. Jargon yang senantiasa diucapkan oleh ibu Atiek Saiful Rahman dalam setiap kegiatan di Dharma Wanita-Persatuan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Para anggota serta pengurus DWP Dharma Wanita Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur berdiri di samping Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mengambil peran strategis sebagai mitra pemerintahan. Beliau juga mengungkapkan, para istri ASN seyogyanya mempunyai peran penting dalam membangun ketahanan keluarga, sekaligus membantu tugas-tugas suami dalam segala lini, setidaknya memiliki kualitas diri. Baik kualitas etos kerja maupun kualitas sikap perilaku budi luhur.

Dengan memikul tanggung jawab yang demikian, sebagai ketua DWP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, ibu Atiek tidak lantas membuatnya berdiam diri. Namun terus bekerja, bekerja dan bekerja.

Cita-cita dan harapan ibu Atiek, memaksimalkan peran pemberdayaan organisasi “Dharma Wanita” sangat tinggi. Kesemuanya itu, ditandai dengan kehadiran ibu Atiek untuk selalu “ada” dalam setiap gerak langkah organisasi yang dipimpinnya. Antara lain mengikuti setiap pertemuan rapat dan selalu sosialisasi pengurus Dharma Wanita di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Walhasil, para anggota Dharma Wanita pun lebih bersemangat mengikuti semua program-program yang sudah dicanangkan. Kekompakkan antar anggota Dharma Wanita terbentuk. Bisa lewat dalam arisan, rapat, sosisalisasi dan segala bentuk upaya mengompakkan organisasi Dharma Wanita di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Bahkan dalam setiap kesempatan, ibu Atiek Saiful Rahman selalu menyempatkan diri untuk bernyanyi bersama anggota Dharma Wanita untuk menumbuhkan solidaritas dan integritas antar anggota Dharma Wanita Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Sebagai Ketua Dharma Wanita, ibu Atiek, senantiasa menggugah kesadaran istri-istri ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk terlibat aktif menggerakkan roda organisasi.
Terlebih saat ini Dindik Jatim memiliki tanggung jawab atas seluruh pengelolaan SMA/SMK di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Maka keanggotaan dan kepengurusan di bawah DWP Dindik Jatim otomatis juga semakin luas. Mulai Banyuwangi hingga Pacitan. Kegiatan sosial, penyerahan bantuan dilaksanakan oleh Dharma Wanita- Persatuan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Namun ada satu yang paling berkesan bagi ibu Atiek, yaitu memberi bantuan kepada korban bencana alam di Pacitan. Walaupun dengan medan yang berat menuju lokasi korban bencana alam, tekad ibu Atiek tetap bulat, tak patah semangat. Perjalanan cukup jauh dilewatinya. Dengan kondisi tubuh yang tidak bisa lepas dari putaran kursi roda, ibu Atiek, sebagai ketua Dharma Wanita, menjalankan dengan penuh tanggung jawab. Prestasi yang ditorehkan salah satunya adalah memperoleh predikat urutan pertama untuk e-reporting e-reporting se-Jawa Timur

Tidak henti-hentinya dukungan yang diberikan kepada ibu Atiek Saiful Rahman sebagai ketua DWP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terus mengalir dari berbagai pihak, terutama dari keluarga. Pentingnya peran keluarga dalam mendidik anak menjadi pesan khusus bagi ibu Atiek. Saat ini yang lebih penting, bagaimana caranya pendidikan karakter diimplementasikan mulai dari keluarga. Karena kenyataannya, seringkali kedekatan orang tua dengan anak terkendala dengan kurangnya sopan-santun anak terhadap orang tua. Justru mengabaikan prilaku sopan-santun sama sekali, terutama dalam hal tata krama. Karenanya orientasi pendidikan, tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan semata, melainkan juga pentingnya pendidikan karakter anak. Ibu Atiek berpesan bahwa wanita yang tangguh adalah wanita yang mengerti tugas dan perannya. Baik menjadi ibu dalam mendidik putra-putrinya, dan sebagai istri seyogyanya membantu tugas-tugas suami. Seorang istri baik di rumah maupun di tengah masyarakat tetap menjaga kaidah-kaidah seorang wanita. Sebagai istri pejabat, ibu Atiek tidak hanya duduk manis, tetapi membantu tugas-tugas suami.

~ Poedianto,S.Pd,MM / Majalah Jendela ~