Di Kepatihan Lohgender, semua prajurit sedang geladi olah perang. Melatih keterampilan pedang, tombak, panah hingga taktik bertempur.

Seorang senopati perang mengamati latihan tempur tersebut dengan seksama. Dan terkadang memberi petunjuk kepada prajurit yang melakukan kesalahan.

Setelah kesemuanya diperhatikan, mata senopati perang tertuju kepada prajurit muda yang dengan cekatan menggunakan senjata pedang dalam latihan tempur berkelompok. Prajurit muda tersebut meloncat tinggi-tinggi, tubuhnya berjungkir balik dan keluar dari kepungan musuh. Ketika kakinya sudah menginjak tanah kembali, pedang yang dalam genggamannya sudah diayunkan ke kanan dan ke kiri untuk menyerang lawan-lawannya. Senopati perang mendekat dan tangannya melambai untuk memanggil prajurit muda itu. Bergegas prajurit muda itu berlari kecil menghampiri senopati perang untuk menghadap.

“Siapa namamu,” tanya senopati perang kepada prajurit muda.

“Damarwulan.”


Perseteruan Kadipaten Blambangan (Banyuwangi dan sekitar) dengan Majapahit semakin sengit. Adipati Minak Jinggo di Blambangan telah membangkang terhadap kekuasaan Ratu Kencono Wungu di Majapahit. Blambangan sudah beberapa waktu tidak membayar pajak dan juga tak pernah menghadiri rapat agung para bangsawan di paseban Majapahit. Adipati Minak Jinggo mengangggap Majapahit semena-mena dalam memimpin. Pengangkatan Raden Ayu Kencono Wungu sebagai raja Majapahit oleh Prabu Wikrama Wardhana dianggap tidak tepat. Konstelasi inilah yang membuat Blambangan mbalelo terhadap Majapahit. Maka, Ratu Kencono Wungu menyatakan bahwa Blambangan telah berontak terhadap Majapahit.

Dan semua prajurit Majapahit di wilayah timur dikerahkan untuk bersiaga menghadapi pasukan Blambangan.

Ratu Kencono Wungu memerintahkan kepada Patih Lohgender dan senopati perang wilayah timur untuk menyusupkan beberapa prajurit pilihan ke wilayah Blambangan. Dan Damarwulan dengan beberapa prajurit lainnya diperintahkan masuk ke Blambangan dengan diam-diam.


Di desa Tengger Wungkal, di pojok jalan desa berdiri sebuah bangunan rumah terbuat dari bambu. Halaman rumah itu sangat luas. Di pinggir pagar ditanami berbagai bunga, sehingga tampak asri.

Di beranda dalam, tiga orang sedang berbincang dengan serius mengenai situasi hubungan Blambangan dan Majapahit. Seorang yang rambutnya sudah memutih duduk sambil bersedakap menyimak dengan sungguh-sungguh perkataan dua pemuda yang duduk di depannya.

“Sabdo Palon dan Noyo Genggong, laporan kalian mengenai pasukan Majapahit yang telah masuk di Blambangan sudah aku mengerti. Tetapi kita menunggu kedatangan Damarwulan untuk menghadap,” kata orang yang rambutnya putih.

Di rindangnya pohon duku belakang rumah, suara burung prenjak bersahutan. Derap dua ekor kuda berhenti di depan regol. Dua wanita cantik dari Blambangan dengan memakai pakaian lelaki meloncat turun dari kuda. Lalu menuntun kudanya masuk ke halaman rumah dan mengikat tali kuda ke tonggak pagar. Seorang pemuda mempersilakan masuk, “Mari raden ayu, silakan masuk ke ruang dalam. Ki Banjarsari, Raden Sabdo Palon dan Raden Noyo Genggong sudah di dalam,” kata pemuda itu.

Dua wanita cantik itu mengangguk, lantas membenahi pakaiannya dan kemudian mengucapkan uluk salam kepada tiga orang yang sudah duduk di atas tikar pandan.

“Silakan duduk Raden Ayu Dewi Puyengan dan Raden Ayu Dewi Wahito,” suara sareh Ki Banjarsari.

Kedua wanita cantik itu duduk sembari menghatur sembah kepada Ki Banjarsari.

Pembicaraan semakin mendalam. Raden Ayu Dewi Puyengan membeberkan situasi di Blambangan. Sikap pendirian Adipati Minak Jinggo untuk menggulingkan kekuasaan Ratu Kencono Wungu sudah bulat. Ini ditandai dengan memesan ribuan senjata perang dari semua pande besi di wilayah Blambangan. Puluhan pedati yang mengangkut senjata-senjata itu sudah sampai di barak-barak prajurit Blambangan. Pedang panjang, pedang pendek, tombak panjang, tombak pendek, belati dengan berbagai ukuran, panah, tameng dan senjata-senjata perang lainnya sudah dibagikan ke para prajurit.

“Duh guru, keadaan ini yang membuat hamba menjadi sedih. Satu sisi Adipati Minak Jinggo adalah suamiku, juga suami diajeng Dewi Wahito. Tetapi sisi yang lain, baginda raja Ratu Kencono Wungu dalam hal ini, berdiri pada yang benar. Adipati Minak Jinggo sendiri juga menginginkan kursi singgasana raja di Majapahit,” suara lirih Dewi Puyengan.

Suasana ruang dalam menjadi hening. Hidangan yang sudah disediakan tak tersentuh. Orang-orang yang duduk di atas tikar pandan itu diam tak berkata-kata. Pikirannya melayang. Karena sebenarnya persengketaan ini adalah persengketaan keluarga bangsawan Majapahit sendiri. Sebab Minak Jinggo sendiri masih putra dari istri kedua Hayam Wuruk. Tatkala Hayam Wuruk menjadi raja Majapahit, Minak Jinggo (Wirabhumi) dijadikan adipati di Jawa bagian timur (Blambangan). Tahun 1389 Hayam Wuruk meninggal. Semua bangsawan dan para brahmana berembuk untuk menentukan pengganti raja. Seharusnya yang menjadi raja adalah Kusumowardhani, anak Hayam Wuruk dari istri permaisuri, yaitu Dewi Sori. Namun atas pertimbangan para bangsawan dan sesepuh negara, suami Kusumowardhani, yaitu Wikrama Wardhana yang dipercaya menjadi raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk. Lagi pula Wikrama Wardhana adalah anak dari adik Hayam Wuruk, yaitu Dyah Nertaja Rajasaduhitespati. Raja Wikrama Wardhana mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan karena menjadi pandita (begawan). Dan mengangkat anaknya Dewi Suhita (Kencono Wungu) menjadi raja Majapahit. Sementara Minak Jinggo (Wirabhumi) adalah anak dari Hayam Wuruk dari istri selir. Oleh karenanya Minak Jinggo merasa berhak atas tahta Majapahit. Karena itu Minak Jinggo menentang keras atas diangkatnya Dewi Suhita menjadi raja Majapahit. Disini mulai timbul pertentangan sesama bangsawan Majapahit.

“Kala itu Prabu Hayam Wuruk sudah tua. Sementara Patih Gajah Mada sudah tiada. Sejak itu para bangsawan Majapahit sudah mulai kendor loyalitasnya kepada negara. Dan mulai saling mementingkan diri sendiri. Para prajurit juga terpecah loyalitasnya, karena mengikuti panutannya masing-masing. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, beberapa kadipaten melepaskan diri dari imperium Majapahit,” suara Ki Banjarsari berhenti sejenak, dan kemudian lanjutnya, “Menurut Kitab Negarakertagama kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Tumasik (Singapura), sebagian Filipina. Dan mempunyai hubungan dagang, hubungan kebudayaan dengan Champa (Kamboja), Sam, Birma, Vietnam hingga Tiongkok,” suara Ki Banjarsari semakin pelan.

Sabdo Palon, Noyo Genggong, Dewi Puyengan, Dewi Wahito, semuanya menundukkan kepala. Kedua pipi Dewi Puyengan basah oleh airmata.

“Para siswaku sekalian, tidak akan lama lagi Majapahit akan runtuh, karena perselisihan sesama bangsawan Majapahit sendiri untuk berebut kekuasaan. Dan anak cucu kita hanya mendengar namanya saja,” suara lirih Ki Banjarsari.

Dalam pada itu, seorang pelayan masuk ke beranda dalam untuk memberi tahu bahwa ada beberapa prajurit dari Majapahit yang dipimpin Damarwulan ingin menghadap Ki Banjarsari.

Dua tikar lagi digelar. Minuman wedang jahe, ketela rebus, pisang rebus dan kacang rebus, semuanya dihidangkan.

Ujung pembicaraan adalah mengatur strategi untuk menundukkan Blambangan dan melumpuhkan Minak Jinggo.


Di pendopo Kadipaten Blambangan, Adipati Minak Jinggo memberi titah kepada semua senopati perang untuk bersiap menggempur Majapahit. Bahkan beberapa bangsawan Majapahit juga ikut bersekutu dengan Blambangan. Seperti Raden Layang Seto dan Raden Layang Kumitir, keduanya putra Patih Lohgender.

Tengah malam, Adipati Minak Jinggo dengan menggenggam senjata Gadha Emas, langsung memimpin pasukan segelar sepapan. Di sayap kanan, Raden Layang Seto memimpin pasukan yang cukup besar juga. Sementara di sayap kiri dipimpin oleh Raden Layang Kumitir.

Singkat cerita, di daerah Paregreg, pasukan Blambangan (kedaton wetan) bertemu pasukan Majapahit (kedaton kulon). Pertempuran besar terjadi. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Pasukan Blambangan terpukul mundur, sebab kalah jumlah dengan pasukan Majapahit. Adipati Minak Jinggo serta pasukan pengawal melarikan diri dengan naik perahu akan menyeberang ke Bali. Tetapi Damarwulan dan pasukannya mengejar hingga Minak Jinggo dan pengawalnya terkepung. Pertempuran kembali berkobar. Namun tak membutuhkan waktu yang lama Minak Jinggo menghembuskan nafas terakhir di ujung keris Damarwulan.

Tak lama kemudian, Raden Layang Seto dan Raden Layang Kumitir juga tewas di tengah pertempuran.

Sorak sorai prajurit Majapahit menggegana. “Kalian semua prajurit Blambangan, menyerahlah. Pemimpin kalian sudah mati semua. Hayo menyerahlah,” teriak senopati perang Majapahit di atas kuda. Maka tak ada jalan lain, semua prajurit Blambangan yang masih hidup menyerah tanpa syarat.

Sinar mentari sudah menyengat ubun-ubun, Sabdo Palon, Noyo Genggong, Dewi Puyengan, Dewi Wahito menahan dan mengikat prajurit Blambangan yang menyerah.

Pada saat itu juga pasukan berkuda dari Majapahit yang dipimpin Patih Lohgender dan Roro Ayu Anjasmoro tiba di medan pertempuran. Roro Ayu Anjasmoro adalah prajurit wanita, yang juga putri Patih Lohgender.

Layang Seto dan Layang Kumitir adalah kakak Roro Ayu Anjasmoro. Namun berbeda sikap pendiriannya masing-masing dalam menghadapi keadaan ini. Layang Seto dan Layang Kumitir condong ke Blambangan. Sementara Roro Ayu Anjasmoro berpihak ke Majapahit.

Siang itu juga pasukan berkuda menyisir seputar medan pertempuran. Roro Ayu Anjasmoro turun dari kudanya setelah melihat Damarwulan tertatih-tatih memapah prajurit yang terluka.

“Kakang, kakang Damarwulan, kau tidak apa-apa kakang,” teriak Roro Ayu Anjasmoro dengan berlari mendekati Damarwulan. Prajurit yang dipapah oleh Damarwulan diserahkan ke prajurit yang lain. Roro Ayu Anjasmoro melihat dada, kening dan lengan Damarwulan juga tergores oleh senjata lawan. Dengan sigap seorang prajurit, Roro Ayu Anjasmoro mengeluarkan beberapa butir obat dari kantong bajunya. Butiran-butiran obat tersebut diremas-remas dengan jemarinya, lalu ditaburkan ke bagian tubuh Damarwulan yang terluka. Tatkala telapak tangan Roro Ayu Anjasmoro yang halus menyentuh dada Danarwulan yang bidang, terasa desir perasaan cinta. Keduanya berpandangan. Sorot mata kedua anak muda itu bertemu. Lalu muncul kasih sayang diantara keduanya.


Bulan bulat bundar. Di alun-alun istana Majapahit didirikan panggung besar untuk perhelatan syukur atas tunduknya Blambangan terhadap Majapahit. Semua tontonan rakyat digelar tuju hari tuju malam. Gending ditabuh, suarawati melantunkan nyanyiannya sembari diiringi lemah gemulai tarian.

Ratu Kencono Wungu meninjau tontonan dari satu panggung ke panggung yang lainnya. Ratu Kencono Wungu didampingi Patih Lohgender dan Damarwulan. Di belakang mereka, Roro Ayu Anjasmoro, Dewi Puyengan, Dewi Wahito, Sabdo Palon dan Noyo Genggong beriringan.

Malam semakin malam. Sinar bulan semakin terang. Di sudut alun-alun, seorang lelaki tua yang rambutnya sudah memutih tampak tersenyum melihat para siswanya bahagia.

S e l e s a i

-Poedianto,SH,S.Pd.MM

-Majalah Jendela-