Budaya santun, halus dan mengupayakan tidak menyinggung perasaan sesama, tampak tercermin pada pilihan diksi dalam syair-syair Jawa.

Karenanya dalam bertindak "bersola bawa", lantas interaksi senantiasa menjaga kelangsungan pertemanan. Budaya ini rupanya telah diajarkan hingga turun temurun dari nenek moyang. Dalam memecahkan persoalanpun melalui pendekatan musyawarah, masih dikedepankan. Apalagi bersinggungan dengan sebuah karya seni. Kita simak syair-syair langgam dan keroncong senantiasa kita temui bahasa kias, anonim, sanepo.

Syair langgam Sarung Jagung ciptaan Ki Narto Sabdo.

Sarung Jagung.

"Sarung jagung.
Abote kebacut trisna.
Tak rewangi, korban jiwa raga.
Mlaku adoh tan ngresula.
Watone sesandingan."

Coba perhatikan judul lagu Sarung Jagung, dalam bahasa Jawa "sarung jagung" diartikan kulit jagung. Kulit jagung nama dalam bahasa Jawa "klobot", kemudian diambil dari kata "bot". Berarti "bot-bote", kemudian ditangkap maknanya menjadi "abot" atau berat. Syair ini bila dicermati secara konstekstual, bermakna beratnya (abot-abote) keingingan bersanding dengan kekasih.

Melaku adoh tan ngresula, abot enteng dilakoni.

Berat dan ringan bersama kekasih harus dijalani. Diibaratkan berjalan jauh terasa tak berat.

Syair ini, betapa halusnya Ki Narto Sabdo dalam menempatkan diksi pada bait tersebut. Syair ini merupakan pesan bagi sepasang kekasih agar tidak mengeluh dalam kehidupan sehari-hari. "Melaku adoh tan ngresulo", bermakna demi kekasih walau berjalan jauh jangan mengeluh.
Bahasa kias sangat tampak dan kental dalam syair Jawa.

Wuyung.

Mari kita simak lagu yang berjudul Wuyung.

Kelapa mudha.
Leganono nggonku nandang branta.

Lagu langgam "Wuyung", ini menggambarkan seorang yang mabuk cinta dan bertanya apa obatnya bagi orang yang sedang jatuh cinta (Obate wong kang nandang branta). Dalam syair ini ditemui kias, anonim, sanepo, dengan memakai kata "klapa mudha" (Kelapa muda). Kelapa muda, yang dalam bahasa Jawa disebut "degan", kemudian bergeser menjadi "legan-leganono." Dalam bahasa Indonesia bermakna relakan.

Dan mari kita simak bait berikutnya :

Witing pari, dimen mari nggonku lara ati.

Witing pari, dalam bahasa Indonesia berarti batang padi, dan disebut dalam bahasa Jawa "damen", bergeser menjadi "dimen", bermakna agar atau supaya. Dan bila diartikan secara lugas kalimat Jawa tersebut bermakna agar bisa sembuh dari sakit hati.

Dan disusul syair berikut ini :

Mbok mbalung janur. Paring usada nggonku
nandang wuyung.

Balung Janur bermakna batangnya janur (daun kelapa), itu namanya "sada", kemudian bergeser menjadi "usada", bermakna kesembuhan. Artinya, seorang yang sedang jatuh cinta. Setiap saat teringat pada orang yang dicintai. Kalau sudah demikian, apa obatnya.

Apabila menyangkut bahasa yang kiranya bisa menimbulkan ketersinggungan sesama. Budaya masyarakat Jawa acapkali menggunakan bahasa yang halus. Dan ini senatiasa dijaga untuk keharmonisan pergaulan sehari-hari.

Ada banyak dijumpai syair Jawa yang kental dengan kias, anonim, sanepo. Acapkali kita temui dalam percakapan masyarakat Jawa Timur. Ini bisa dijumpai dalam kidungan ludruk. Misal kidungan Cak Kartolo, Cak Supali atau Cak Agus Kuprit dan tokoh ludruk lainnya.

Simak syair parikan ini.

Bayem erine, ketan pulukane.
Ayem atine, ketemu areke.

Bermakna sindiran dengan kias, yang menggambarkan tenteram hatinya, karena ketemu kekasih.

Sering kita mendengar sapaan dimulai dengan "janur gunung" kamu datang bermain ke rumahku. Tak biasa seorang teman yang datang bermain ke rumah kita, tiba-tiba bermain. Maka kata yang terucap "janur gunung." Nama janur gunung itu ialah aren. (sejenis kelapa yang tumbuh di gunung). Boleh dikatakan kelapa gunung. Sebab pohon kelapa biasanya tumbuh dan subur di daerah pesisir, tetapi aren tumbuh subur di pegunungan. Janur gunung berarti aren, bergeser menjadi kadingaren. Janur gunung bermakna tidak seperti biasanya.

Masyarakat Jawa yang penuh "ewuh-pakewuh" penuh dengan bahasa perasaan, maka dalam percakapan juga tak lepas dari trap-trapan bercakap. Dengan siapa berbicara. Bahasa yang mengedepankan kehalusan sopan santun.

Misal lagu keroncong yang dengan judul Jenang Gulo. Inti syair lagunya menggambarkan ingkarnya janji asmara.

Jenang Gulo.

"Jenang gulo, kowe ojo lali marang aku iki.
Nalikone, nandang susah sopo sing ngancani."

Jenang gula berarti gelali, dipetik belakangnya menjadi "lali," dan bermakna lupa. Maka syair tersebut menjadi "ojo lali marang aku iki." (Jangan lupa dengan saya).
Diartikan secara luas, jangan lupa sama diriku, sebab ketika mengalami susah, aku yang menemani.

Misal lagi syair yang menggambarkan seorang yang jujur dengan "witing kelapa" (batang kelapa).

Batang kelapa dalam bahasa Jawa dinamakan glugu. Bergeser menjadi lugu. Artinya, jujur, seadanya.

Ki Narto Sabdo, pujangga gending Jawa, dengan jeli meneropong bahwa karya seni, baik seni sastra tulis, seni gending atau seni lainnya, tidak lepas dari kehalusan berseni. Sebab seni itu tidak hanya tontonan, tetapi juga tuntunan.
Jadi hakikatnya seni itu terkandung pesan mendidik. Baik lewat pengalaman empiris diri sendiri maupun dari interaksi dengan sesama. Kesemuanya merupakan wahana pendidikan yang dituangkan pada karya cipta seni.

Misal lagu yang berjudul Bengawan Sore.

Bengawan Sore

Ning pinggire bengawan.
Tansah setya ngenteni sliramu.
Eling-eling jamane semana.
Wus dungkap pitung ketiga.

Syair ini menggambarkan kesetiaan seorang kekasih saat teringat tatkala bercinta memadu kasih di pinggir bengawan. Namun ketika perjalanan waktu, riak, rintangan, menghadang. Akhirnya putus cinta. Kisah cinta sepasang sejoli yang pernah janji sehidup semati tersebut putus di tengah jalan.

Bait berikut, coba simak:

Ning pinggire bengawan.
Saben-saben mung tansah kelingan.
Wus prasetyo ing janji kang suci.
Ing lahir terusing ati.

Ungkapan "saben-saben", ini menggambarkan setiap saat sang kekasih hanya bisa mengenang keindahan, kesyahduan dan segala impian jiwa remaja dalam bercinta kasih. Dan diakhiri dengan pasrah pada Yang Maha Kuasa.

Simak syair pasrah di bawah ini:

Senadyan kaya ngapa. Manungsa mung bisa ngreka lan njangka.
Gusti kang paring idi lan pasti.
Kito sak dermo nglampahi.

Dalam konflik rumah tangga pun tak lepas dari bidikan syair Jawa.

Misalnya lagu yang berjudul "Kena Godha" yang dalam bahasa Indonesia berarti terkena godaan. Nuansa lagu Kena Godha ini menceritakan seorang istri yang dikhianati suami. Sang suami pamit berangkat untuk tugas kerja. Namun dalam perjalanan waktu tergiur wanita lain.

Yang jelas pandangan istri bahwa sang suami adalah sosok seorang bapak rumah tangga penuh dedikasi baik pada rumah tangga maupun pada tugas-tugas kerja.

Simak syair pembuka:

Nalikane dek jaman semono.
Tresnamu setya lan tuhu.
Anane mung tansah ngalembana.
Prasasat ora nate cidra.

Syair ini tampak jelas betapa tulus dan jujur sang kekasih dalam menjalin asmara.

Coba simak syair berikut :

Mula aku tansah angimbangi.
Trisnaku ginawa mati.

Kemudian berubah drastis bagai arah jarum berputar mundur. Seolah digambarkan dari terang benderang penuh harapan tiba-tiba gelap gulita karena mengetahui realita yang sebaliknya.
Simak syair berikut :

Peteng dedet rasaning atiku.
Bareng keprungu khabarmu.
Nyatane sing kundur mung layangmu.
Ora ngira kena godha.

Syair penutup ini bila disimak sangat antogonis dengan syair pembuka. Nuansa lagu Kena Gudha ini acap kali terjadi secara realita di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di bawah ini akan diulas tentang ingkarnya seorang pejuang kemerdekaan pada warga desa yang ketika sengsara berjuang senantiasa dibantu oleh warga desa.

Lagu judul "Caping Gunung" karya Ki Gesang dan sering dilantunkan oleh Nyi Waljinah, Nyi Sunyahni dan banyak penyanyi lainnya lagi.

Caping Gunung

Dek jaman berjuang njur kelingan anak lanang
Biyen tak openi, ning saiki ono ngendi.

Jarene wis menang, keturutan sing digadhang
Biyen nate janji ning saiki opo lali

Bait-bait syair ini tampak sekali betapa harapan sang ibu (warga desa) menanti janji para pejuang. Janji dalam syair ini tampak bila menang (merdeka) dan perang usai akan mengingat kembali jejak perjuangan hingga sampai di gunung (desa). Dan betapa harapan sang ibu (warga desa) sebagai induk tempat pejuang tersebut berlindung dari kelaparan yang digambarkan dengan syair :

Tak cadongi sega jagung
Yen mendung tak silihi caping gunung

Syair kedua tersebut bisa bermakna luas. Mungkin memang dalam arti sesungguhnya caping tersebut sebagai penadah panas dan hujan. Namun bila dimaknai lebih jauh bisa berarti sebagai situasi gawat (mendung) dari intian musuh, dan warga desa melindungi yang di personifikasikan dengan caping gunung.

Harapan kembalinya sang pejuang sangat dinanti bagi ibu (warga deda) agar bisa melihat keadaan desa dalam era perjuangan dengan era pembangunan.
Simak harapan sang ibu dalam syair:

Syukur bisa nyawang, gunung desa dadi rejo.

Syair ini penuh harapan, mengingatkan kembali perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan. Yang dulu suasana susah sebab perang. Kini di jaman pembangunan deda-desa sudah berubah menjadi ramai (rejo).

Lalu apa pesan sang ibu pada anak yang lupa akan janji. Simak syair ini.

Lali opo nglali (lupa atau sengaja lupa), dan simak syair penutup :

Dene ora ilang nggone podho lara lapa.

Syair ini mengingatkan agar jangan lupa ketika sengsaranya dalam berjuang. Menahan lapar dan dahaka. Syair ini berupa sindiran yang halus.

Syair Jawa dalam lagu langgam dan keroncong selalu menggunakan diksi yang santun.
Nyi Windarti, sinden kondang dari Semarang, Nyi Tomblok dari Bojonegoro, Nyi Waljinah, Nyi Sunyahni, Nyi Sumarni dan pesinden kondang yang lainnya lagi, senantiasa melantunkan dengan artikulasi yang benar agar tidak keliru memaknai.

Berbagai penulis gending seperti Ki Narto Sabdo, Ki Manteb Sudarsono dan yang lainnya, semuanya berjasa dalam memperkaya seni Jawa. Muatan moral yang ditulis dalam beberapa syair gending bisa menjadi tuntunan.

Misalnya, seorang yang memegang janji prasetia kepada kekasihnya. Ini bisa membaca syair lagu yang berjudul Pamit Mulih, karya Gesang.
Isi lagu ini tentang kecintaan terhadap kekasih. Tentang kejujuran ini ada pada lagu yang berjudul Ibu Pertiwi, karya Ki Narto Sabdo. Tentang watak satria, ada pada syair lagu Mahesa Jenar. Dan tentang tempat wisata, ada di syair lagu Perahu Layar, Tirtonadi.

Bentuk penuturan syair yang sarat akan pesan moral senantiasa banyak ditemui pada syair gending, langgam dan keroncong.

Misal syair lagu Pamit Mulih karya Ki Gesang.

Pamit Mulih.

Ora sembada biyene, saben dina mung tansah methuki.

Arti bebasnya : Dulu setiap hari selalu menemui kekasih, namun pada ujungnya cintanya menjadi putus.

Judul "Luntur," karya Ki Gesang, simak syairnya :

Luntur.

Ditambakno mrana-mrene, tiwas-tiwas dedowo larane.
Nanging tombo sejatine, ora liya mung awake dewe.

Arti bebasnya : Mencari penyembuhan kesana kemari, malahan semakin parah sakitnya. Dan yang paling baik, ialah penyembuhan dari dirinya sendiri. Artinya, jalan keluarnya untuk problem yang seperti ini, tak lain hanya menentramkan hatinya sendiri.

Ada lagi syair tentang peringatan lupa waktu. Kegembiraan ketika tamasya di salah satu tempat wisata. Menikmati indahnya pantai atau hijaunya dedaunan pegunungan. Di tengah kegembiraan akan kemolekan panorama, terkadang kita lupa akan waktu. Maka dalam syair lagu Perahu Layar karya Ki Narto Sabdo, di bait penutup, diingatkan dengan syair :
.
Perahu Layar

Witing kelapa katon awe-awe.
Prayogane becik bali wae.
Dene sesuk esuk, tumandang nyambut gawe.

Arti bebasnya : Ketika dibuai kegembiraan tatkala berlibur di tempat wisata, maka seyogyanya ingat akan waktu. Sebab besuknya akan menjalankan pekerjaannya masing-masing. Yang berprofesi guru akan kembali mengajar, yang mahasiswa akan kuliah, yang siswa akan sekolah, yang karyawan akan ke kantor dan lain sebagainya.

Kitab Wedhatama dan Wulangreh banyak juga dijumpai pembelajaran keteladanan. Sementara kidungan jula-juli, parikan, juga merupakan pesan moral. Tembang, kidungan, dengan irama masing-masing, digunakan sebagai sarana mendidik masyarakat. Ada pula yang lewat seni tradisi setempat. Seperti tembang Pangkur yang sudah barang pasti syairnya sangat kental dengan pendidikan.

Pangkur.

Sopo biso uro-uro.
Uran-uran paringane Kanjeng Nabi.
Jagad jembar, langit dhuwur.
Geni kalangkung panas.
Mori putih yen diwedel dadi gandung.
Yen ora ngandel den nyatakno.
Asem kecut, gulo legi.

Arti bebasnya: Siapa bisa melantun. Lantunan pemberian Baginda Nabi. Bumi yang luas, langit yang tinggi. Api amat panas. Kain putih bisa berubah warna.
Jika tidak percaya bisa dibuktikan.
Buah asam masam rasanya, gula manis rasanya.
Syair ini bisa dilantunkan memakai tembang-tembang menurut budaya yang berlaku di sebuah masyarakat.

Pankur sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dahulu kala. Bahkan di sekolah dasar pada era tahun 1960-an diajarkan oleh guru. Bahkan tembang pangkur menjadi wajib bagi siswa untuk menghafalnya. Untuk apa? Sudah jelas agar anak didik bisa meneladani pesan-pesan syair yang terdapat dalam tembang, termasuk tembang Pangkur.
Syair di atas sudah jelas merupakan pendidikan akan besarnya kekuasaan, keagungan Tuhan, lewat ciptaannya yang digambarkan dengan luasnya bumi alam semesta, langit yang menjulang tinggi tak terukur. Atau contoh sederhananya adalah menciptakan rasa makanan yang dicontohkan dengan rasa asam dan gula dalam syair tersebut.
Esensinya terkandung maksud pada syair tembang tersebut adalah bahwa manusia harus punya prinsip. Bila memang sudah dikodratkan mempunyai rasa masam seperti buah asam atau manis seperti gula tebu, maka apabila jadi masam atau manis, harus dijalani. Artinya harus menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Daun klaras (daun kering) saja akan bermanfaat bagi manusia apabila untuk membungkus terasi, daun jati untuk membungkus sesaji bumbu dapur, sampah jadi rabuk, yang pada pokoknya peranan apa saja yang disandang manusia seyogyanya digunakan sebesar-besarnya untuk kebaikan manusia.

Sangkan Parane Dumadi.

Lebih jauh harus merenung bahwa manusia berasal dari mana dan akan pergi kemana. Perjalanan hidup semestinya harus mempunyai pegangan, mempunyai panduan. Pegangan dan panduan inilah yang dipakai sebagai tongkat untuk meniti hidup serta mengarungi kehidupan di tengah masyarakat yang semakin lama semakin komplek. Cobaan serta ujian senantiasa silih berganti. Yang satu belum rampung terselesaikan, yang satunya lagi sudah menghadang di depan mata.
Menghadapi konstelasi yang demikian inilah, manusia jangan sampai hanyut dan terlempar oleh semua rintangan yang menghadang. Karenanya sejak usia sekolah harus diajarkan hakikat hidup dan kehidupan nyata. Tentunya dengan metode pembelajaran yang mudah dicerna sesuai jenjang sekolahnya. Oleh karenanya, siswa harus dikenalkan dengan ajaran pesan moral. Dan pada gilirannya akan menyadari, merenungi, tentang dari mana dan akan kemana manusia hidup di dunia ini.

Budi pekerti, keagamaan, peduli sesama, tolong menolong harus dikenalkan sejak sekolah dini. Kemasyarakatan juga sudah diajarkan lewat ilmu sosial. Sopan santun, unggah-ungguh diajarkan lewat pelajaran agama, bahasa daerah, bahasa Indonesia. Materi pembelajaran inilah yang diharapkan bisa mencetak anak didik mengenal kebenaran, kejujuran, rasa kemanusiaan, berbudi luhur serta menghormati orang lain.
Sebab bila melihat keadaan sekarang, dikhawatirkan generasi muda, mahasiswa, siswa, akan cenderung mengedepankan sifat-sifat induvidu yang berujung mengutamakan diri sendiri. Konsumeristik duniawi diutamakan ketimbang menuntut ilmu yang diajarkan di sekolah. Karenanya ketiga mata pelajaran tersebut jangan sampai tercabut di sekolah-sekolah. Khususnya di sekolah dasar dan menengah pertama.

Pengabdian Sejati.

Tapak-tapak ing gladhen sejati.
Gladene wong kang kepingin ngabdi.
Marang ibu pertiwi.
Ora butuh pangalembono.
Ora butuh puja-puji.

Arti bebasnya seperti ini : Jejak-jejak dalam kehidupan bagi insan yang ingin mengabdi pada tanah air. Tanpa pamrih, tidak ingin dipuji. Sebab pengabdiannya dengan tulus hati serta tidak mengharap pangkat serta kedudukan duniawi. Pengabdian ini dimilik oleh pendidik. Sebab pendidik selama ini memang sudah teruji pengabdiannya untuk pencerdasan anak didik.
Meski penghasilan para pendidik sangat pas-pasan namun masih bisa hadir mengajar walaupun jarak tempuh dari rumahnya ke sekolah relatif jauh. Tidak pernah mengeluh, badan bersimbah peluh, tetap bertanggungjawab mendidik.
Pengabdian inilah sebagai bukti dedikasi terhadap generasi penerus. Sebagai pendidik senantiasa konsekwen terhadap profesi yang dimilikinya. Semuanya ditumpahkan untuk kepentingan anak didik. Dengan tidak meradang menghadapi serpihan-serpihan derita kehidupan. Derita dipanggul di pundaknya, bahkan tak jarang menerima cerca.
Pengabdiannya tidak bisa disandingkan dengan ukuran apapun. Bentuk nyatanya sudah jelas, yaitu menghasilkan bangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi, jutaan karya tulis yang memenuhi rak-rak perpustakaan dan hasil lainnya lagi.

Selesai

Poedianto

Guru SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya.

Poedianto, Guru Bahasa Indonesia, SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.