Kumandang ajakan sholat subuh dari masjid desa sebelah sudah terdengar, Wati sudah mengambil air wudhu di pakiwan belakang. Udara sangat dingin pagi itu, sebab semalaman hujan turun dengan derasnya. Ayam jantan berkokok bersahutan dari sudut-sudut desa. Pepohonan yang tumbuh rindang di belakang rumah masih basah. Pagi itu, warga desa sudah mulai menampakkan kegiatannya. Ada yang siap-siap kepasar membawa bakul berisi barang dagangan, ada yang menyiapkan cangkul, sabit, untuk mengolah tanah sawahnya dan ada pula dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Setelah subuhan, Wati menyulut kayu bakar, dimasukkan ke tungku yang terbuat dari tanah liat untuk memasak air, membuat teh manis. Di atas dahan burung-burung sudah ramai berkicau. Wati membangunkan kedua adiknya yang masih duduk di sekolah dasar. Keduanya bergegas bangkit dan ke pakiwan membersihkan diri.

Sinar mentari sudah menerobos dedaunan serta memanasi genting-genting rumah. Wati sudah memakai seragam karyawan toko, pun kedua adiknya juga sudah berseragam sekolah. Ketiganya duduk menghadap meja, minum teh manis hangat dan makan roti sisir sebagai sarapan pagi.


Kamis sore, Wati nyekar di makam bapak ibunya. Mulutnya komat kamit uluk doa. Matanya berkaca-kaca. Lalu dibukalah bungkusan kembang telon, lantas ditaburkan merata di makam bapak ibunya yang berjajar itu. Pikirannya melayang tatkala mengingat musibah yang menimpa keluarganya. Siang itu, toko sedang ramai-ramainya pembeli, Wati sibuk melayani berbagai kebutuhan pembeli di toko tempat kerjanya. Tiba-tiba saudara sepupunya meminta Wati pulang untuk hal yang sangat penting. Wati izin kepada pemilik toko, kemudian dibonceng sepeda motor oleh sepupunya menuju rumah. Setibanya di rumah, sudah banyak tetangga dan sanak familinya berkumpul. Terdengar pula suara tangis dari kedua adiknya. Wati masuk ke beranda tamu, dan melihat dua bujur jenazah yang dikerudungi kain jarik. Bibinya menubruk Wati, memeluknya dengan erat. “Bapak ibumu kecelakaan,” suara bibi Wati berbisik. Detik itu juga, Wati ambruk pingsan dan digotong masuk ke ruang dalam.

Wati tersadar dari lamunannya, karena terasa pundaknya ada yang menjawil dari belakang. Wati menoleh kebelakang, dilihatnya seorang lelaki yang sudah sangat tua tersenyum serta mengangguk. Lelaki tua itu berpakaian serba hitam. Kepalanya diikat dengan kain batik motiv kembang-kembang warna ungu. Wati berdiri dan membalas dengan anggukan pula. “Nduk, kau jangan hanyut oleh kesedihan yang terus menerus. Sebab bapak ibumu orang baik di desa ini. Suka membantu sesama,” orang tua itu diam sejenak. Matanya memandang Wati dengan dahi berkerut. Watipun mencoba mengingat lelaki tua yang berdiri di depannya itu. Apakah dirinya sudah pernah bertemu. Namun ingatan Wati juga tak mampu mengenali lelaki tua itu. Kembali mengingat lagi, tetapi tak berhasil juga mengetahui siapa lelaki tua itu. Memang Wati tak merasa pernah bertemu, apalagi mengenalnya. Padahal Wati dilahirkan dan dibesarkan di desa ini, tentu saja mengenal semua warga desa. Sebab kebanyakan warga desa masih ada pertautan handai tolan. Tetapi dengan lelaki tua ini, Wati tak mengenal sedikitpun. Lalu lelaki tua itu berkata lagi, “Kesedihan yang berlarut-larut akan merugikan diri sendiri nduk.”

“Tetapi ini mengenai bapak ibuku mbah,” timpal Wati dengan cepat.

Lelaki tua itu tertawa lirih, kemudian katanya lagi, “Ya aku memahami. Bapak ibu yang membesarkan kamu. Aku ikut prihatin. Tetapi kesedihanmu jangan membuat dirimu melupakan tanggung jawab kepada adik-adikmu. Aku juga tahu kalau kau tak semangat lagi untuk bekerja. Akhir-akhir ini kau juga suka menyendiri. Terkadang kau tidak mengetahui, adikmu masih di sekolah atau sudah berada di rumah,” lelaki tua itu diam sejenak sembari memandang Wati dengan rasa iba. Wati merasa heran dengan lelaki tua itu, ia mengetahui semuanya. Sampai-sampai tahu juga kalau dirinya malas bekerja sepeninggal kedua orang tuanya. Wati tersentak, ketika lelaki tua itu berkata lagi dengan nada yang agak tinggi. “Nduk, aku mengenal semua keluargamu dengan baik. Eyang buyutmu bernama Ki Sarpo. Kakekmu bernama Simowongso. Bapakmu bernama Aji Darmo dan ibumu bernama Wulansari. Kau sendiri Wati Pandan Arum,” lelaki tua berhenti berbicara. Wati semakin terheran-heran. Dan kemudian lelaki tua itu berkata lagi. “Buyutmu bersama beberapa warga desa yang membabat pepohonan, rerimbunan dan meratakan tanah buat bikin makam untuk warga desa sini. Malahan buyutmu pula yang menemukan mata air di balik bebukitan sebelah barat desa, kemudian airnya dialirkan lewat belahan-belahan bambu ke pakiwan induk utara balai desa. Dulu warga desa bila mandi, mencuci pakaian, semuanya di pakiwan induk. Sekarang belahan-belahan bambu untuk saluran air sudah diganti dengan pipa-pipa plastik dan sudah bisa masuk ke setiap rumah warga.” Lelaki tua itu menghentikan perkataannya. Hari mulai redup. Matahari sudah condong ke barat. Beberapa peziarah sudah banyak yang kembali ke rumah masing-masing. Tetapi ada juga yang masih tafekur di depan makam keluarganya. Angin semilir meniup pelan. Wati masih mendengarkan perkataan lelaki tua itu. “Nduk, pergantian lakon kehidupan itu harus disikapi dengan pikiran jernih. Bukan dengan emosi. Semuanya sudah ada yang menata. Hidup dan mati itu telah tersedia waktunya. Waktulah yang menggerakkan semua irama kehidupan ini. Lihat pohon itu. Daunnya yang kuncup berwarna hijau pupus, lalu daun yang masak berwarna hijau tua, kemudian berubah menguning, kering, jatuh ke tanah. Berganti lagi dengan daun-daun baru. Patah tumbuh, hilang berganti. Maka, hidup ini sesungguhnya hanya menanti pergantian. Tidak ada yang langgeng. Oleh karena itu nduk, jangan terpedaya oleh kesedihan. Pasrahkan saja kepada perputaran waktu. Nduk harus semangat bekerja, cari nafkah, untuk adik-adikmu. Adik-adikmu butuh bimbinganmu.”

Wati terperanjat karena ada suara memanggil-manggil namanya. Dilihatnya, bibinya berlari-lari kecil menghampiri. “Ayo pulang, sebentar lagi gelap,” pinta bibi Wati dengan suara keras, kemudian memegang pergelangan tangan Wati dan ditarik keluar dari area makam. Wati sempat menengok ke belakang, namun lelaki tua itu sudah tak kelihatan.

Gelap merambat dengan pasti dan menyelimuti langit desa. Suara azan magrib sudah berkumandang. Wati dan bibinya mengambil air wudhu. Sementara kedua adiknya sudah pergi ke masjid.


Hari masih pagi, Wati mengajak bibinya ke sumber mata air. Keduanya berboncengan naik sepeda motor menuju sendang yang berada di balik bukit kecil. Tempat itu sebagai sumber mata air. Jalan berliku, menanjak dan menurun. Ketika jalan semakin menanjak, bibi Wati memutuskan untuk menitipkan sepeda motor di rumah warga yang letaknya di ujung jalan. Kedua wanita itu berjalan kaki dengan sangat hati-hati. Jalan setapak, basah dan berlumpur. “Hati-hati Wat, jalannya licin,” kata bibi Wati. Persis di balik batu besar, tampak sebuah sendang kecil yang penuh dengan air jernih. Kedua wanita itu turun dengan pelan untuk bisa sampai di bibir sendang. Sesampai di pinggir sendang, bibi Wati duduk di atas batu, nafasnya terengah-engah. Kemudian mengambil botol yang berisi air minum dari dalam tas. Dibukalah tutup botol, bibi Wati minum beberapa teguk. “Wat, di dasar sendang ini terdapat mata air yang deras. Leluhur warga desa ini yang mengalirkan airnya ke pemukiman warga. Pekerjaan mengalirkan air untuk bisa sampai di desa adalah pekerjaan yang besar,” papar bibi Wati.

“Benar bibi,” sahut Wati dengan memandangi beberapa pipa-pipa plastik ukuran besar yang dipakai untuk mengalirkan air turun ke desa.

Ketika bibi Wati berbicara banyak tentang mata air, tentang sendang, tentang sawah dan tegalan yang tidak kering kala musim kemarau, tentang panen yang memuaskan. Panen padi, palawija, sayur mayur, mangga, nangka, sukun, langsap dan hasil bumi lainnya, ternak sapi dan kambing yang gemuk-gemuk karena rerumputan yang subur.

“Inii semua karena mata air yang deras Wat.”

“Ya bibi.”
Kemudian Wati beringsut, jongkok di bibir sendang, lalu kedua tangannya dimasukkan dalam air, membersihkan kedua telapak tangan, dan menggoyang-goyangkan air. Lantas Wati membasuh wajahnya berkali-kali. Tiba-tiba mata Wati menangkap bayang-bayang wajah di permukaan air. Wajah lelaki tua yang menemuinya di makam beberapa waktu yang lalu. Wati berdiri seketika, mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup keras, kemudian mengajak bibinya untuk pulang segera.

S e l e s a i

Senin Legi, 10 Februari 2020

-Majalah Jendela-