Di taman kaputren negara Malwapati, sang raja Prabu Angklingdarmo sedang berbincang dengan permaisuri Setyawati. Perbincangan yang serius tentang perselingkuhan istri Begawan Naga Pratolo yang bernama Nagagini dengan Ulo Tampar. Kabar perselingkuhan tersebut sudah menyebar di tengah-tengah warga masyarakat negara Malwapati. Dan ini yang membuat Prabu Angklingdarmo sedih. Sebab Begawan Naga Pratolo adalah tokoh yang disegani oleh para bangsawan, juga merupakan guru dari Prabu Angklingdarmo sendiri. Maka semua prajurit telik sandi dikerahkan untuk mencari informasi tentang kebenaran kabar perselingkuhan tersebut.


Matahari sudah istirahat. Prabu Angklingdarmo mendapat laporan dari prajurit telik sandi tentang kebenaran kabar perselingkuhan tersebut, detik itu juga sepasukan prajurit pilihan yang dipimpin sendiri oleh Prabu Angklingdarmo berangkat menyisir tempat persembunyian Ulo Tampar, yaitu di tengah hutan. Namun Ulo Tampar juga pendekar yang mempunyai banyak pengikut. Maka, benturan kekuatanpun tak bisa dihindari.

Saling menyerang, menangkis dan segala daya upaya untuk menundukkan lawan terjadi di tengah hutan malam itu. Sepasukan prajurit Malwapati menghadapi pengikut-pengikut Ulo Tampar.

Denting suara senjata berbenturan terdengar di segala sudut tengah hutan. Pengikut-pengikut Ulo Tampar bertempur dengan berteriak-teriak, umpatan-umpatan kasar keluar. Teriakan dan umpatan itu hanya untuk mengecilkan nyali para prajurit. Tetapi para prajurit Malwapati sudah kenyang pengalaman menghadapi segala medan tempur. Dan terbukti tak membutuhkan waktu yang lama, para pengikut Ulo Tampar dapat diringkus oleh prajurit Malwapati. Ulo Tampar juga menghembuskan nafas terakhir oleh anak panah Prabu Angklingdarmo.


Singkat cerita, Prabu Angklingdarmo mendapat pemberian dari Begawan Naga Pratolo berupa Aji Mantra Gineng. Yaitu apabila mantra tersebut diucapkan, akan mengerti bahasa semua binatang. Dari gajah hingga cicak. Maka Prabu Angklingdarmo memahami segala perkataan binatang.


Suatu pagi, permaisuri Setyowati meminta diajarkan Aji Mantra Gineng. Tetapi Prabu Angklingdarmo menolak, sebab sudah diwanti-wanti oleh Begawan Naga Pratolo untuk tidak mengajarkan Aji Mantra Gineng kepada siapapun, termasuk kepada sang permaisuri sendiri.

Karena kehendak permaisuri Setyowati tidak kesampaian, lalu tatkala tengah malam, sang permaisuri bunuh diri dengan masuk di kobaran api (mati obong).

S e l e s a i

-Majalah Jendela-

Cerita ini dipetik dari tutur Sutradara Adit dalam Gelar Seni Budaya Tradisi Kabupaten Bojonegoro di Pendopo Cak Durasim, Surabaya (Jumat, 13 September 2019).