“Saya hanya cipta lagu-lagu Jawa. Saya tidak ingin jadi penyanyi. Sebab saya sudah tua,” kata Poedianto ketika ditanya teman guru di ruang kerjanya.

Saat waktu luang mengajar daring, Pak Poedi, panggilan kesehariannya, selalu menulis lirik lagu Jawa.

Memang selama pandemi covid 19 tak mengurangi kreativitas Poedianto, Guru SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya, yaitu dengan menulis lirik dan lagu Jawa. Semangat menguri-uri seni budaya tradisi, setidaknya sudah menghasilkan sebanyak 211 lagu-lagu Jawa. Diantaranya judul lagu yang dinamai Guru, Wartawan, Dina Becik, Sepi, Ra Bisa Diaboti, Mung Sliramu, Rembulan Dadi Seksi, Tresnaku Trenamu, Kembang Mawar, Rukun, Yen Kowe Nesu, Bali Ning Desa, Bebungahe Ati, Pramuka, Sregep Sinau, Ngungsi dan banyak lagi. Lagu-lagu tersebut dilantunkan sendiri dengan gitar usangnya.

Lebih jauh pria yang rambutnya sudah memutih ini mengungkapkan, “Lagu-lagu ini hanya sebagai karya dasar. Tetapi apabila ada penyanyi yang berkenan, boleh manyanyikan lagu-lagu tersebut. Silahkan saja. Semuanya sudah ada di youtube,” ungkapnya tatkala ditanya oleh teman guru sejawatnya ketika usai memberi pelajaran murid-murid dengan daring di ruang guru baru-baru ini.

Tema lagu ciptaannya banyak mengangkat balada kehidupan sehari-hari. Ada tema pendidikan, persahabatan, rumah tangga, asmara dan tema lainnya.

Pecinta seni tradisi wayang kulit, ludruk, janger, ketoprak, keroncong, langgam, campur sari ini, juga sudah menulis berbagai cerita rakyat, legenda, ephos, cerpen. Misalnya cerita dengan judul Sang Guru, Perawan Sendang Madu, Cinta Suci di Kaki Gunung Wilis, serta berbagai cerpen sosial. Bahkan beberapa karya tulis tersebut dipakai untuk lakon Ludruk RRI Surabaya dan tema obrolan budaya RRI Surabaya. Karya-karya Poedianto ditulis saat waktu luang, yaitu di tengah-tengah kesibukan tugas-tugas guru dari sekolah tempatnya mengabdi.

“Saya memang suka menulis. Menulis apa saja yang berkaitan dengan seni dan budaya. Saya juga pernah menulis di majalah pendidikan milik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, yaitu Majalah Info, Majalah Bende, Majalah Media dan media pendidikan lainnya,” paparnya.

Lebih lanjut, guru yang suka humor ini mengatakan bahwa seni budaya tradisi diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Dari tingkat pendidikan dasar sampai tingkat pendidikan atas. Baik seni tari, menyanyi, kerawitan, pedalangan dan seni lainnya. “Sebab garda terdepan melestarikan seni budaya tradisi ialah sekolah-sekolah,” tambahnya.

Majala Jendela

Poedianto, Guru SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.